Kakaaaak...!!!

Saya agak syok waktu tahu Eda keren ini memberikan panggilan kesayangan untuk anjing-anjingnya. Coba ya, ada "Noel" untuk Lionel, atau "Mister Ty" untuk Tigger, dan entah apalah lagi (kalau tidak salah tercatat sedikitnya lima panggilan!). Seharusnya saya tidak perlu setakjub itu ya, lah adik saya memanggil salah satu anjing kami "Bevie", singkatan dari "Beverly" -- haduhaduhaduh! Saya sendiri tidak terpikirkan untuk memberikan nama pendek bagi hewan-hewan peliharaan. Kadang-kadang kucing saya pun hanya saya panggil "Pus", paling keren juga "Pusye". Pokoknya tidak kreatiflah!

Tapi obrolan maya soal nama kecil itu entah kenapa mengingatkan saya pada anak-anak lucu di kantor saya. Kebetulan mayoritas teman sejawat saya adalah orang tua muda dengan anak-anak berumur antara dua sampai sembilan tahun. Kami kerap mengadakan acara bersama, entah piknik, entah ke outlet-outlet raksasa di luar kota, atau mengunjungi museum/ taman hiburan/ de-es-be.

Dalam situasi demikian, jamak melihat "kehebohan" yang sering menyertai acara-acara tersebut. Mulai dari anak-anak yang berlari ke sana kemari, menangis, berebut mainan, menumpahkan makanan dan minuman... serta tentunya para orang tua yang berseliweran atau berseru-seru memanggil atau menegur putera-puterinya. (Belum lagi para "oom" dan "tante" yang ikut mengejar-ejar mereka, hehehe...).

Nah, begitu terjadi panggil-memanggil, yang terdengar adalah seruan-seruan seperti:

"Abang, sini! Jangan terlalu dekat ke air, nanti kamu jatuh!"

"Kakak, coba pegang Adek dulu. Mama mau ke mobil ambil minuman."

"Adeeeeek.. kamu di mana? Aduh, nanti kotor roknya!"

Pokoknya langsung banyak "kakak", "abang", "mas", "adik", dan itulah panggilan yang digunakan walaupun masing-masing tentunya sudah punya nama sendiri. Mendadak semua punya nama yang sama, dan tidak ada yang bisa menyalahkan kalau anak-anak ada yang jadi bingung atau malah cuek sama sekali.

Penggunaan "gelar" atau "status keluarga" untuk memanggil seorang anak memang sangat umum di keluarga Indonesia, mungkin juga di Asia (belum saya cek sih ke teman-teman dari negara Asia lain), dan kaitannya mungkin erat dengan pembiasaan menerima tanggung jawab sosial selaku anggota keluarga. Sebutan "Kakak/Abang/Mbak/Mas/Teteh/Aa/dsb." yang pada umumnya identik dengan kelahiran pertama (walaupun sering juga panggilan "mas" atau "mbak" diberikan tanpa memperhatikan urutan kelahiran yang bersangkutan) mencerminkan perilaku yang diharapkan dari yang bersangkutan: kepemimpinan, sifat melindungi dan membela; serta hak-hak yang diperoleh: pakaian pertama, mainan pertama, dan seterusnya. Sebaliknya, sebutan "Adik" merefleksikan kelebihlemahan, muda, perlu dilindungi -- dan sebaiknya patuh pada yang lebih tua (walau bila kebetulan "Adik" adalah anak bungsu, pemberontakannya sering dimaklumi ketimbang kalau dia anak tengah).

Hipotesis ini jelas ngawur-ngawuran, tapi kayaknya cukup sesuai diterapkan di saya. Saya dan adik satu-satunya tumbuh dengan kebiasaan saling memanggil nama, tanpa menggunakan embel-embel "Kakak" atau "Adik", kecuali sebutan "Butet" yang hampir selalu dipakai semua anak perempuan keluarga Batak. Karena itu, barangkali, rasa tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan saya agak minim, dan adik perempuan saya lebih perkasa dari kakaknya, hihihi...

Omong-omong, yang lebih mengagetkan saya adalah panggilan "Adek" untuk seekor anjing! Coba ya, selucu-lucunya puuuuunnn....

20 comments:

nananias said...

hahahahahaha... iyah adek noel ama abang ty emang gitu :p :p

yap yap nama panggilan yang memberi tanggungjawab khusus secara ngga langsung!

btw
master noel = onel = adek = ndut = lionel
tigger = mister ty = baby = abang

huehuehuehuehue

yang punya said...

BUSET!

*gubraaaaaakkk....!!*

mellyana said...

brownie dipanggil bonyie (pake aksen ya) atau bobon (payah nih).
anjing laen dikasih naman biang (you knowlah dari mana asal katanya) panggilannya pipi.

manggilnya harus sambil ngucek ngucek kupingnya biar tambah sayanggggg :p

yang punya said...

HAH? Ada lageeeee...?????

*gubrak ganda*

Duh duh.. ini namanya bukan penyalahgunaan "kodrat" hewan peliharaan ya? *hihihi.. pake kata2 kodrat ntar daku dimarahin pak komentator nyasar! peace pak!*

lia said...

spt nya budaya di kel daku juga sama dgn dirimu. 7 bersaudara daku tidak ada panggil kakak/adik. tp masing-2 kita punya nick name.

yang punya said...

Lia: maksudnya nickname tuh semacam "Cempluk" atau "Bodhong", gitu?

Boe said...

Lha kalau mo diterus2in hipotesis (yang menurut saya nggak) ngawur itu tadi: peliharaan kan emang nggak punya tanggung jawab sosial, makanya boleh dipanggil njangkar. Nah, lantaran kita emang bangsa yang kelewat sopan, biar nggak terasa bersalah manggil seseorang (atau sesuatu?) tanpa gelar sosialnya, kita bikinlah panggilan njangkar itu sesuatu yang 'lucu'...

Sunny said said...

Betul itu. Di keluarga saya (mix Bengkulu & Melayu), panggilan "Kakak" atau "Abang" ke orang yang lebih tua wajib hukumnya. Tapi kalu lebih muda nggak wajib dipanggil "Adek" kok, langsung panggil nama aja. Yang menyebalkan adalah kalau si Kakak dan si Abang itu ternyata umurnya lebih muda, tapi dilihat dari garis darah emang dituakan. Ambil contoh anak gue dan anaknya abang gue. Anak abang gue lahirnya setelah anak gue. Jadi walaupun umurnya lebih muda, tetep aja anak gue wajib memanggil dia kakak. Yang ada anak gue bingung karena dia udah terbiasa manggil kakak ke anak yang jelas2 terlihat lebih besar/ tua dibanding dibanding dia.

lia said...

iyee.. semua punya nick name.. tp buat lucu-2an + kumpul aja tuh nama di pake abis jelek-2 sih. ada si bodhong, kriting...

tapi teteup daku cuma panggil nama doang ampe ke kakak yg no 1.

eit...bukan berarti ga respect sama mereka loh, justru amat sgt.
lah jd ngobrol..

Okol said...

temen kuliahan ku dulu bikin tumpengan buat kasih nama kucing yang baru ditemuinya di jalan, nama kucingnya Kusnadi Setiawan, karena kucingnya jantan dan diharapkan menjadi kucing yang setia...

Silverlines said...

Creative thinking.
Kucing gue dulu paling namanya Kaca (karena mukanya seperti pake kacamata), ada anaknya ya kita panggil Kaju (Kaca Junior)
Ketahuan banget males mikir :D

tito said...

saya maunya panggil adek ato kakak gitu, tapi karena adik tetep panggil saya pake nama lama-lama saya ogah. Baru kali ini tau ada orang panggil anjingnya adek. Udah gitu dikastrasi pula.

yang punya said...

Buyung: hihihi.. ini hipotesis ngawur kuadrat!

Girl: Kayaknya di Indonesia emang rata2 begitu ya, terutama kawasan Barat (?). Gw punya keponakan (tentunya bukan keponakan langsung) yang umurnya 6 th lebih tua dari gw dan harus manggil gw "tante". Kalo sekarang sih gak terlalu keliatan bedanya, tapi kebayang kan waktu gw umur 12 th dan dia 18 tahun???

Lia: hahaha.. berarti keluargaku segitu plain nya. Gak ada panggilan "kakak"/"adik", apalagi nickname! Sekarang sih sama adikku saling manggil "Jeng" aja.

Okol: Buset, segitu dalemnya. Baidewei, trus "Kusnadi" itu dari mana dong? Nama yg punya?

Silverlines: Hehehe.. iyah. Tapi panggilan "Kaca" masih ada bau2 kreatip nya lah, masih menandakan sesuatu. Eh, inget anjingnya si Doi di komik majalah Gadis dulu gak, yang usil banget dan namanya Asyu.. hihihi.. coba, lebih gak kreatip manaaaa...

Tito: Wah itu emang adik kurang ajar hihihi.. Dan soal anjing yg dikasih panggilan adek *lirik2 Mami Nana* saya juga speechless kok.

ikutan koment said...

ikan cumpang saya namanya dominic, panggialnnya minic :p
dulu pas kecil 'kakak' dan 'adek' jd panggilan wajib di rumah, setelah gedhe lbh suka manggil nama julukan, kek 'mbil' buat kk, dan saya kebagian nama 'ndut'
duh klo begini saya mending tetep dipanggil 'adek' ajah!!!

nananias said...

and it runs in the family loooh, ponakan saya si icha yang baru 4 tahun punya ikan koki bernama miss henrietta dan kura-kura bernama putri angelika!

manggilnya gini *di depan akuarium* sayang-sayang ini maemnya ..

mwihihihi...

lantip said...

adik dan kakak .. hmm.. bukannya itu satu budaya paling primordial yang memang selayaknya ada? sebagai ejawantah dari ada/tidaknya stratifikasi sosial bahkan dalam organisasi terkecil?
*halah opo to?* :p

Boe said...

Nhaaa... komentar sing terakhir dari mas Lantip itu menarik: benarkah sebutan "adik"/"kakak" (dan semua kemungkinan variannya) adalah fenomena global di setiap masyarakat yang mengenal hierarki (atau stratifikasi? bedone opo?) sosial?
(well, to think that all of this was inspired from a story on a castrated dog...)

hidup ngawur!

yang punya said...

Gita: Tapi ikannya gak dipanggil "Kak" atau "Dik" Minic kan?*winks*. Panggilan "Ndut" atw "Mbil" kan masih okehlah, dibanding.. er.. "Nces"?

Eda Nana: Kayaknya itu ada yg ngajarin deh..*siul2*

Lantip & Boe: Yen tak pikir2 bener juga. Jadi kalo mo mempercepat demokratisasi bangsa, perlu disosialisasikan tidakperlunya memakai sebutan "kakak"/"adik" gitu? HIDUP NGAWUR!

Anonymous said...

Lho, kan saya panggil "kakak" ke kamu. Malahan Harry dgn kejamnya dah duluan mendaulat kamu sbg "kakak"nya tersayang. Hubungannya "kakak" dgn tanggungjawab seh urusan ke sejuta aja deh .... The important thing, the love that we share, oceh?

Anyhow, whatever panggilannya, you're always a part of my life.

besitos y abrazitos.

Sontoloyo said...

Ajuuuuuuu......

Nah loh kalau panggilannya kaya gitu gimana ?

Strata sosial diwujudkan dengan panggilan..ada tanggung jawab di setiap panggilan seperti itu kan ?

Bagaimapun juga yang dipertuakan seolah2 diberikan tugas untuk memberikan suri tauladan kepada yang lebih muda.

Bayangkan kalau mereka yang muda harus melihat bagaimana yang dipertuakan tidak tegar atau melakukan hal yang "dinilai" buruk ??

So mendingan juga manggil nama ajah deh daripada harus menanggung beban moral yang lumayan..semakin jauh stratanya.
eg :
- "kakak" tentu bisa lebih slebor daripada "Paman"
- "Aju" Bisa lebih kaga perhatian daripada "ibunda"

- "Bapak" mungkin tidak se "baik" "eyang"

then again itu semua adalah penilaian yang relatif untuk bisa dilihat sebagai suatu padanan dalam masyarakat.

"I love you Om"