"Kelirumologi" Tidak Penting Yang Kerap Bikin Sebal

#1. "(Tertawa). Wah, orang Batak memang pasti bisa menyanyi. Suara kamu bariton ya?"

Pertama, tidak semua orang Batak bisa menyanyi. Sama seperti tidak semua orang Bali bisa memahat atau menari Bali, atau tidak semua orang Padang bisa berdagang (pelit sih iya ... er... mungkin...). Dan tidak semua orang Jawa berbakat jadi pembantu, hehehehe... *maaf, maaf* Nenek saya, yang seratus persen Batak, memiliki suara paling fals yang pernah saya dengar. Stereotip memang suka mengesalkan ya, terutama bila menambah beban pekerjaan. ("Kamu yang nyanyi ya? Orang Batak kan pasti bisa nyanyi?")

Kedua, sejak kapan ada perempuan punya suara bariton? Kecuali Dorce dan Ru Paul, mungkin. Biasanya saya hanya menjawab sambil tersenyum manis (tentunya manis menurut versi saya): Bukan, kalau untuk perempuan namanya alto. Bariton suara laki-laki, dan seingat saya jarang sekali terpakai di partitur paduan suara, yang biasanya hanya membagi kelompok suara atas S-A-T-B. (Mungkin karena suara saya memang berat ya. Kalau sedang flu, orang yang menelepon saya menyapa dengan sebutan "Pak").

Kemudian soal penggunaan istilah falsette dan diva. Beberapa artikel yang saya baca di koran menuliskan bahwa penyanyi perempuan tertentu mampu memainkan falsette-nya. Falsette memang teknik menyanyi untuk nada-nada tinggi, namun yang digunakan oleh penyanyi pria. Walaupun kesalahan begini sering menggelitik, tapi saya sebenarnya rada maklum, mengingat tidak semua jurnalis punya waktu dan kesempatan untuk mengasah pengetahuan mengenai bidang yang harus ditulisnya. Apalagi setelah membaca blog-blog yang ditulis para mantan wartawan di sebuah koran besar di Jawa Timur.

Sedangkan pemakaian istilah diva untuk penyanyi-penyanyi perempuan terkemuka Indonesia menurut saya sudah agak berlebihan. Di sini pun tidak semua penyanyi perempuan dijuluki diva -- hanya mereka yang dipandang sudah mempunyai reputasi dalam rentangan waktu yang relatif panjang. Itu pun sudah menuai banyak kritikan, terutama oleh kelompok yang bolehlah dikatakan konservatif, yang tegas bahwa julukan diva hanya patut diberikan pada mereka yang jelas-jelas menggunakan teknik menyanyi yang benar. Latah memang salah satu kelebihan kita di Indonesia, hehehe...

#2. "Sekretaris Atase Kedutaan Besar"

Saya pernah membaca satu tulisan fiksi yang menyebutkan pekerjaan seorang tokohnya sebagai "Sekretaris Atase Kedutaan Besar" untuk menggambarkan tingkat kepentingan dan mobilitas yang tinggi dari sang tokoh. Sekali lagi, bukan ketidakmengertian si penulis itu mengenai penyebutan teknis sebuah jabatan yang membuat saya sebal, melainkan fakta bahwa penulis ini tidak membuat riset mengenai apa yang ditulisnya.

Untuk kepentingan diri sendiri, dan teman-teman yang mungkin ingin menulis topik serupa, seperti inilah peringkat pejabat diplomatik di seluruh dunia, mulai dari yang terendah: Atase, Sekretaris III, Sekretaris II, Sekretaris I, Counselor, Minister Counselor, Minister. Ambassador? Gelar itu baru diperoleh setelah memperoleh persetujuan presiden dan DPR.

Mengenai atase, ada perbedaan antara atase diplomatik dengan atase teknis. Atase diplomatik tentunya merujuk pada peringkat diplomatik tertentu, sedangkan atase teknis adalah pejabat dari departemen teknis tertentu (non-Deplu) yang menjadi pejabat diplomatik karena ditempatkan di perwakilan negaranya di luar negeri, misalnya atase pertahanan, perdagangan, dan seterusnya. Perbedaan yang pasti adalah untuk atase diplomatik ada kenaikan peringkat diplomatik, sedangkan atase teknis tidak.

Cerita fiksi yang lain menggambarkan kehidupan tokohnya, yang dikisahkan memiliki ayah diplomat, hidup di delapan negara yang berbeda "mengikuti tugas ayahnya". Wah. Saya kok tidak pernah mendengar ada diplomat Indonesia yang sudah berada di delapan pos yang berbeda sepanjang karirnya. Penempatan pertama umumnya diperoleh setelah sedikitnya empat tahun bekerja, dan biasanya berlangsung tiga setengah tahun. Setelah rampung masa tugas tersebut, yang bersangkutan harus kembali ke Jakarta untuk dua tahun, sebelum memperoleh penempatan berikutnya. Begitu seterusnya: empat tahun di luar negeri, dua tahun di dalam negeri. Pegawai negeri pensiun pada usia 55 tahun, atau katakanlah 65 tahun kalau beruntung bisa menjadi duta besar (bersaing dengan sesama pegawai Deplu dan penunjukan politik presiden). Pada penempatan pertama rata-rata diplomat rendahan ini berumur 30 tahun. Jadi dengan perhitungan bodoh-bodohan, paling-paling seorang pegawai urusan luar negeri ditempatkan di empat atau lima pos perwakilan.

#3. "West Wing"

Ini masih ada hubungannya dengan Sumber Sebal #2. Salah satu episodenya -- mungkin teman-teman yang lain pernah melihat juga -- menceritakan kunjungan Presiden Indonesia. Namanya persisnya saya lupa, tapi katanya keturunan Jawa. Seingat saya nama yang diberikan untuk "Presiden Indonesia" itu tidak ada bau-bau Jawanya sama sekali. Satu-satunya hal yang memperlihatkan bahwa presiden itu dari Indonesia adalah pecinya. Kemudian lihatlah pengetahuan mereka mengenai Indonesia: Indonesia tidak punya bahasa nasional, yang ada hanyalah 600 dialek lokal. Kalaupun penulis skenario episode itu tidak punya waktu untuk mencari bahan tentang Indonesia, logikanya pun pasti tidak ada.

INTINYA? Internet ternyata tidak selalu dipakai para penulis untuk mencari informasi untuk meningkatkan akurasi tulisannya. Indonesia, Amerika, sama saja.

8 comments:

mellyana said...

jadi, judul buku fiksi itu teh apa? :)

yang punya said...

itu bukan buku, tapi cerber, di femina. aku lupa judulnya, ntar tak liat deh. emangnya kamu yg nulis? ;)

merlyna lim said...

hehehe... kelirumologi, suka bikin ketawa..

jadi inget peristiwa2 kelirumologi di ruang non-cyberspace..
dulu di toko nyokap/bokap, org2 yg beli suka bilang begini:
- meser (beli) pikok (peacock -- merk semir rambut) cap merak
- aya (ada) kodak cap fuji?

atau org2 Bandung kalo listrik mati langsung bilang "waduh, aliran euy"... (apanya yang ngalir coba?)
atau temenku yg nyunda banget komentar, "wah, cakep itu cowo... mukanya face euy" (wah... padahal maksudnya baby face..)

kacow kan?... :)))

yang punya said...

hihihihi... mer, jadi inget, kalo di manado/ambon, mo matiin lampu bilangnya: "bunuh itu lampu!".

adi wahyu said...

masih mending dong kalo kasusnya di Indonesia maklum Internetkan masih mahal dan bukan kebutuhan *timpuk telkomnyet*

Nah di Amerika???

Ah jastifikasi tanpa searching Internet dulu nih :D

bon said...

dapet sumber darimana neh.. dari bang rhoma yak :)

-rino said...

nama presidennya rahm sugito, kali terinspirasi oleh rahm punjabi dan bangun sugito. ;-)

walaupun banyak kelirumologinya, ini termasuk episode favorit lho. hanya karena adegan dialog segitiga antara rahmadi sumahidjo bambang (what a name!), staf senior presiden RI dengan josh lyman dan toby ziegler, senior staf POTUS, di dapur gedung putih. adegannya diakhiri dengan ucapan bapak rahmadi yang kira-kira seperti ini “your president just accused my president of being a dictator in his speech and I know that you wrote that speech. and now you want me to do you a favor? go to hell!” sambil terus membalikkan badan meninggalkan josh dan toby.

atau… jangan-jangan ini satu kelirumologi lagi. mana ada staf presiden RI yang seperti itu! hehehe…

yang punya said...

rino: kalo staf presiden mengucapkan hal itu secara informal sih masih mungkin (walopun kecil sekali kemungkinannya). yang gak mungkin adalah seorang presiden, sekalipun presiden AS, secara terang2an menuduh presiden lain yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan sebagai diktator (walaupun itu kenyataan). celaan biasanya dilakukan di forum2 multilateral.