Api! Api!

Suara sirene di kejauhan tidak terlalu mengganggu saya. Saya biasa tidur di tengah keriuhan. Saya hanya sempat berpikir: ini mimpi. Dan: kok suaranya makin lama makin keras?

Seruan ibu saya membangunkan kami semua.

"Bangun! Bangun! Ambil dokumen, turun ke bawah! Apartemen East terbakar!"

Yang muncul di benak saya hanya satu. Apartemen yang dirubung api adalah yang berada di seberang kompleks apartemen kami. Saya meneruskan tidur sejenak, sampai kemudian saya membuka kelopak mata saya sedikit, dan melihat nyala berwarna jingga dari jendela kamar saya yang besar. Astaga.

Apartemen saya berada dalam kompleks yang terdiri dari empat bangunan apartemen: Blair Tower, Blair East, Blair Plaza, dan Blair Townhouse. Bangunan tempat saya bangun tiap pagi, Blair Plaza, berhadap-hadapan dengan Blair East, yang terbakar.

Saya sempat terheran-heran dan merasa mimpi melihat kobaran di depan mata saya. Saya lihat ke bawah: tidak ada kumpulan orang. Benar-benar terjadikah peristiwa ini? Atau semuanya sudah tertangani? Tapi kenapa saya tidak melihat gerakan-gerakan pemadaman?

Rupanya truk-truk pemadam kebakaran sudah berada di bawah. Kondisi pukul lima pagi yang masih gelap dan mata saya yang masih berat membuat saya tidak memperhatikannya.

Kemudian saya ingat: ada empat keluarga teman saya sekantor yang tinggal di bangunan itu. Dan kami teringat bahwa apartemen salah seorang di antaranya adalah yang dipasangi bendera bintang-dan-garis milik negara ini. Ya Tuhan. Apartemen yang terbakar berada persis di sebelah apartemen teman kami itu, di lantai berikutnya.

Dengan panik kami menelepon teman-teman saya, melalui telepon rumah maupun genggam. Sebagian besar ternyata sudah keluar dari rumah masing-masing, walau ada juga yang tidak menjawab. Kemudian teman saya yang apartemennya berbendera bintang-dan-garis itu minta tolong menitipkan istri dan anak-anaknya ke saya.

Untung isteri teman saya tidak kelihatan tertekan, malah masih bisa tertawa-tawa. Bagus, karena anak-anaknya menjadi tenang. Bahkan anak-anaknya lebih asyik melihat truk-truk pemadam kebakaran dan mobil-mobil polisi. Teman-teman yang tinggal di gedung yang sama ada yang memilih untuk menunggu di apartemen teman kami yang lain, yang kebetulan segedung dengan saya.

Dalam waktu dua jam, kebakaran sudah bisa diatasi, dan teman-teman saya sudah boleh memasuki rumah mereka. Korban meninggal dua orang, namun bukan karena terbakar. Mungkin lebih karena tidak tahan asap atau shock.

Ini berarti sudah kedua kalinya saya menjadi tetangga rumah atau gedung terbakar. Beberapa tahun lampau, rumah di depan rumah kami di Jakarta terbakar habis. Ibu saya yang melihat dengan mata kepala sendiri kejadian tersebut sampai sekarang menyimpan trauma. Untung rumah kami sudah diasuransikan.

Yang saya perhatikan, kerja pemadam kebakaran di sini profesional, padahal anggotanya tidak dibayar. Artinya, mereka menjadi pemadam kebakaran sukarela, karena menganggap itu tugas sosial. Saya ingat, waktu di Jakarta, Ketua RT kami habis kesabaran karena -- masya Allah -- petugas pemadam kebakaran masih tawar-menawar ongkos pekerjaannya. Akhirnya memang rumah tetangga kami itu tidak bisa diselamatkan. Dan petugas pemadam kebakaran yang mata duitan itu gagal menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Saya tahu, kecenderungan ini tidak bisa digeneralisir. Tapi menambah lagi keyakinan saya bahwa bangsa kita yang selalu dibangga-banggakan kegotong-royongannya sering tidak memiliki kesadaran sosial. Sedih.

2 comments:

Belutz said...

alhamdulillah, mbak dan temen2 mbak masih terhindar dari maut. hati-hati ya mbak...

adi wahyu said...

Iya alhamdulillaah, kamu selamat ya :)

Yah emang gitu, rasa kegotongroyongan sudah hilang dari bangsa kita ya :(