Medan Perang Bernama Sekolah

Masih panas masalah IPDN di tanah air, di sini terjadi peristiwa mengguncangkan, penembakan di kampus Virginia Tech yang menewaskan 32 orang mahasiswa dan staf, dan melukai 30 orang lain. Di sela-sela mengawal sejumlah delegasi dari Jakarta, semua pesawat televisi dihidupkan dan telepon dilakukan untuk memantau situasi. Mengetahui bahwa ada 14 mahasiswa Indonesia berkuliah di Virginia Tech, badan langsung melemas. Dan benar, pagi ini diperoleh kepastian bahwa salah satu korban adalah saudara sebangsa, Partahi Lumbantoruan, yang sedang mengambil gelar Ph.D-nya. (Ah! Teman sekampung juga!)

Kronologinya silakan baca sendiri di situs surat-surat kabar. Yang jelas, semua berita menggambarkan pelakunya dengan tenang menyemburkan peluru dari senjata di tangannya sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri. Hebatnya, ia membagi penembakan dalam dua "shift" yang berselang dua jam! Perbedaan dua jam inilah yang memicu kemarahan para mahasiswa Virginia Tech, karena merasa pihak kampus tidak cukup cepat melakukan tindakan preventif. Peringatan pertama tentang adanya penembakan diterima polisi kampus pukul 7:15 pagi, dan email pertama kepada seluruh mahasiswa pukul 9:26.

Peristiwa yang sekarang tercatat sebagai pembunuhan massal di institusi pendidikan terbesar dalam sejarah AS ini tak pelak lagi mengingatkan pada peristiwa serupa di Columbine High School tahun 1999. Kesamaan ini akan makin mencolok, pelaku pembantaian di V Tech adalah mahasiswa sekolah itu juga.

Ironis sekali. Baru beberapa bulan sebelumnya para mahasiswa V Tech dan orang tua mereka ketakutan karena seorang narapidana kabur dikabarkan berada di sekitar kampus tersebut. Ternyata pencabut nyawa justru salah satu dari antara mereka sendiri. Persis Columbine.

Saya jadi bertanya-tanya: ada apa dengan kampus? Ada apa dengan menjadi pelajar?

"Schools should be places of safety and sanctuary and learning. When that sanctuary is violated, the impact is felt in every American classroom and every American community".

Itu bunyi pernyataan resmi Bush. Eh, biarpun dia musuh bersama banyak orang di dunia (termasuk di negaranya sendiri, heheheh...), kata-katanya betul sangat. Dan menusuk, karena kenyataannya sekarang sekolah memang tidak lagi jadi sanctuary.

Saya teringat kembali IPDN. Kemudian anak SD yang mencoba bunuh diri karena malu tidak bisa membayar uang sekolahnya, yang besarnya hanya senilai ongkos parkir di Jakarta. Totto-Chan yang lebih suka melihat keluar jendela kelas. Dan ketidaknyamanan saya sendiri di masa sekolah dasar dan menengah dulu. Coba saya ingat-ingat apa yang membuat saya tidak nyaman. Teman-teman yang rasanya kurang menerima? Kurang percaya diri karena berbadan besar? (Hehhehe... malah jadi curhat.)

Ketika makin banyak ketidakpastian di luar sana, sekolah sih idealnya menjadi tempat memperoleh jawaban dari berbagai pertanyaan. Setidaknya menjadi tempat berbagi pikiran. Tapi bagaimana kalau sekolah ternyata malah menambah beban? Para guru cuma punya waktu menjejalkan berbagai materi karena sibuk berkutat dengan masalahnya sendiri? Kawan sebaya yang mencari jatidiri dengan unjuk kekuatan semu (dan mungkin untuk menutupi kegamangannya sendiri)?

Kemudian kita juga seolah disesatkan bahwa kekerasan (bisa) menjadi cara terbaik penyelesaian persoalan. Coba bayangkan, si pelaku (yang masih muda ini, 23 tahun) memicu senjatanya dengan kekaleman seseorang yang sedang memainkan Mortal Kombat. Bedanya sasarannya sekarang roboh dengan lumuran darah, dan tidak ada angka pencapaian yang muncul. Dalam dunia hiburan, film-film besutan Quentin Tarantino dianggap memperlihatkan kejenialan justru karena menampilkan kekerasan, dengan "seni". Kekerasan sebagai bentuk sofistikasi? Hm.

Di tengah ekspose kekerasan yang berlangsung terus dan demikian deras, institusi pendidikan sebenarnya memiliki tugas untuk ikut meredamnya. Faktanya ya tidak demikian. Bahkan dalam institusi pendidikan kerap justru ditemui bibit-bibit kekerasan dalam berbagai bentuknya, mulai verbal sampai tindakan fisik, yang belum tentu bisa dikontrol sekolah. Lihat saja contoh Columbine dan IPDN.

Karena itu juga saya bisa memahami kecemasan dan kebingungan seorang teman ketika puteri tunggalnya memasuki usia sekolah. Dengan pertimbangan bahwa sang puteri kelak akan lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, tidak heran bahwa ia berpikir sekolah setidak-tidaknya harus mampu memberikan perhatian yang seimbang dengan yang selama ini diberikannya. Dan ini tentu tidak mudah, apalagi murah :(.

Saya ingin tahu, apakah di sekolah-sekolah dasar dan menengah fungsi psikolog (jaman saya dulu, guru BP) benar-benar dimaksimalkan. Saya ingat, atas permintaan ibu saya, guru BP di SD saya kerap memberikan semangat pada saya untuk menulis (walaupun sarannya agar saya mencoba mengirim tulisan ke majalah anak-anak tidak pernah terwujud, sampai sekarang :p). Berapa banyak guru saat ini yang cukup punya waktu untuk memperhatikan perubahan-perubahan sikap seorang anak, bahkan guru TK? Dan berapa banyak orang tua yang cukup perhatian untuk benar-benar mengikutsertakan guru -- orang yang sehari-hari ditemui oleh anaknya -- dalam proses tumbuh-kembang anaknya?

6 comments:

nananias said...

pengajaran ama pendidikan beda ga?

yang punya said...

exactly! departemennya namanya departemen PENDIDIKAN nasional, tapi sejauh ini yang dilakukan sih baru PENGAJARAN. eh, tapi kalo di bahasa inggris "education" itu maknanya apa ya?

Dodol Surodol said...

Kalo dulu zaman SMA, di sekolahnya sendiri sih ngerasa aman. Tapi begitu keluar sekolah, deg deg plas *eh, nggak cocok ya deg deg plas di sini* mulu. Masalahnya rute pulang naek bis melewati daerah-daerah rawan pertempuran dan pemalakan.

lantip said...

sekolah, skolae.. akar bahasanya dari "waktu luang", yang sekarang ada malah: "TK Full Day dengan biaya Rp. 9.999.999,-"
Jadi dimana letak kesalahannya? Di pemikiran kali ya :)

miund said...

ga ada tempat yang aman di dunia ini ya kayanya. sedih bener.

itto said...

hmm.. cho!! knapa gak nembak di dalam IPDN aja??!!