Sastra Dokter

Waktu agak lebih muda dari sekarang (ya, bangsa dua puluh tahunan silamlah, hehehe...) saya suka membaca novel-novel karangan Marga T dan Mira W. Saya kira kebanyakan remaja perempuan masa itu (mungkin juga kini, entahlah, saya tidak mengikuti perkembangan dunia penerbitan populer lagi) memiliki kecenderungan sama. Terutama waktu dimabuk cinta monyet: sepertinya saya (kami?) bisa mengidentifikasi tokoh cerita dengan diri sendiri.

Buat saya, kedua penulis itu layak diberi catatan sendiri. Khususnya Marga, yang novel Karmila-nya boleh dikata menandai permulaan gaya penulisan sederhana dengan pangsa pasar yang jelas: perempuan muda. Embrio chicklit, sebelum istilah terakhir itu tercipta. Lebih dari itu, Karmila di mata saya adalah salah satu ikon sebuah periode historik yang unik: episode Slamet Raharjo dan Christine Hakim, Teguh Karya dan Eros Jarot, Guruh Gypsy dan Chrisye, bahkan Panbers dan Rinto Harahap. Generasi bunga Indonesia, walaupun para karakter dalam novel-novel Marga jelas lebih pruden.

Marga dan Mira dan mungkin sampai taraf tertentu Eddy D. Iskandar tidak akan pernah dikategorikan penulis "serius". Padahal Karmila menimbulkan gelombang penulisan gaya baru. Dan Badai Pasti Berlalu begitu monumental: perdebatan mengenai nilai sastranya, filmnya yang melahirkan bintang-bintang baru (dan terbukti di kemudian hari menjadi orang-orang besar dunia film Indonesia), ilustrasi musiknya yang oleh seorang kritikus bahkan digelari "magnum opus". Pengaruhnya masih terasa dua dasawarsa berikutnya ketika Badai Pasti Berlalu digarap ulang, dalam bentuk sinetron (halo, Dian Nitami!) serta film layar lebar yang mencoba mengulang resep orisinalnya: menampilkan dua pemain (relatif) baru. Yang gagal, karena sepertinya lebih banyak menuang caci maki daripada dorongan, apalagi pujian. Sampai sekarang pun, karya pop Marga masih berhasil menimbulkan polemik (coba ikuti di sini).

Sudah lama saya penasaran, seperti apa Marga T sebenarnya. Dulu saya cuma tahu kalau dia dokter, keturunan Cina, dan Katolik. Tapi sosoknya tidak muncul di majalah-majalah, gambarnya tidak terpampang di koran-koran. Baru waktu menulis entri ini saya menemukan informasi singkat tentang perempuan yang katanya bertubuh mungil dan bernama Marga Tjoa. Kurang lengkap, tapi sudah jauh mendingan. Paling tidak, penasaran saya terobati sedikit.

Konon Marga sendiri yang memang menghindari publikasi. Di salah satu halaman situs yang memuat data dirinya (cuma satu, harus pakai bayar -- yang saya hindari dengan trik tertentu hehehhe... -- itupun tanpa foto), ia mengatakan bahwa menjadi terkenal bakal menyulitkannya dan menghambat inspirasi.

Bisa jadi Marga memang seperti yang diakunya: seorang dokter yang mencintai menulis, dan menulis demi menulis (pusing tak? Samaaaaaaaaa...), walaupun saya rasa dia juga dikenai tenggat waktu oleh penerbitnya. Mungkin juga karena tanpa publikasi besar-besaran, karyanya sudah dicari orang. Marga tidak perlu diwawancara, memberikan pendapat untuk isu-isu terkini, difoto untuk sampul mengilat majalah-majalah perempuan -- bahkan tidak juga untuk sampul belakang bukunya sendiri. Tanpa melontarkan komentar kontroversial, tulisannya sudah diperdebatkan dan inspirasional. Padahal boleh dikata hampir semua bukunya menggunakan formula yang sama: perempuan ketemu laki-laki, dan ada variasi masalah. Salah satu atau semua tokoh utamanya dokter. Akhir cerita hampir selalu bahagia (kecuali untuk Gema Sebuah Hati dan versi awal Bukan Impian Semusim -- yang kemudian direvisi atas permintaan pembacanya). Oya, mereka yang mengikuti karya-karya Marga juga bisa melihat perubahan gaya bahasa dan penamaan tokoh-tokohnya yang semakin kurang usum, hehehe...

Omong-omong, walaupun Karmila selalu dipandang sebagai masterpiece Marga, bagi saya karyanya yang paling dahsyat adalah Gema Sebuah Hati. Seperti Pada Sebuah Kapal-nya NH Dini, buku ini sangat diwarnai oleh pengalaman pribadi pengarangnya. Mungkin karena itu pula ikatan emosinya sangat kental. Sejarah pergantian rejim yang berlumur darah bangsa ini dilihat dari kacamata seorang korban: keturunan Cina yang tidak diterima di golongan apapun. Partisan berarti selamat, dan netralitas menjadi musuh diri sendiri. Golongan yang menang menjadi pahlawan, tapi pahlawan kemudian menjelma jadi perampok. Gema Sebuah Hati bukan sekedar buku pop, tapi kilasan balik suatu masa kelabu, yang bisa aplikatif pada tahun berapapun.

14 comments:

moose said...

Saya juga pernah muda..duluu sekali, lbh dulu dr jeng Ellen...dan saya setuju, jeng. Gema Sebuah Hati emang dahsyat..ku pikir itu yang terbaik dr semua novelnya Marga T. Setangkai Edelweiss lanjutannya suka juga, tapi malah lebih memanjakan gua dgn cerita ttg Tibet...ugh..kapan ya gua kesana....Novelnya makin kesini malah nama tokohnya suka aneh-aneh gitu..kenapa ya..?

yang punya said...

Setuju banget jeng, untuk menamakan Gema Sebuah Hati karya terbaik Marga T. Kalo Setangkai Edelweiss buat saya biasa2 aja, hehehe... Saya bertanya2, kapan ada orang film jenius yang bisa mentranslasikan Gema Sebuah Hati dengan sempurna? Eh, tapi sekarang juga gak kedengeran ada yang niat yah :p.

Perkara nama tokoh, can't agree more. Kebanyakan yg sekarang2 diambil dari tokoh2 drama, coba, ada Ophelia, ada Ramses... Shakespeare sekaleeee...

okke said...

untuk orang yang ga begitu demen tampil, publikasi emang bikin tertekan...

Tapi hari gini publikasi [karya+diri] penting banget buat dukung penjualan, soalnya ya bo, kebanyakan penulis muncul, kalo ga sering tampil ntar kelelep... :D

ehm sebentar.. kok kesannya... yang penting bukan karyanya ya? Gue salah kali ya? hahahah....

yang punya said...

Hahaha... ya bener juga sih Ke. Sekarang ini seorang Marga T mungkin gak terlalu perlu publikasi karena namanya udah jadi brand tersendiri, tapi gak adil kalo tuntutan yg sama dikenakan ke penulis2 baru. Karya emang penting, tapi kalo orang gak kenal karyanya gimandangggg.... Trus sapa lagi yg mo memperkenalkan satu hasil karya kalo bukan yg berkarya?

mellyana said...

baca buku Marga T di Gramedia, gratisan karena belum musim diplastikin. Mau beli, kok rasanya masih kekecilan ya (umurnya gitu..hihi). jadinya, gak ada yang nempel banget banget. maklum baca sembunyi2 satu buku di toko buku kan gak nyaman

nana said...

ngelirik deretan novel marga t and mira w. anda benaaaar mereka emang superb! aku paling suka kishi tapi, biasalah biar ga sama ama yang lain hehehehe..

dan karena dokter, tokohnya (lupa di novel yang mana) bukankah ada yang bernama tulang kering dalam bahasa kedokteran yak?

so berikutnya NH Dini 'Da? ati-ati liat belakang! :D

ayo ayo.

yang punya said...

melly: huahahahaha... sama dong sama aku, cari bacaan gratis di Gramedia waktu SD dulu *ngakak*.

eda nana: hahaha... emang kita gak harus baca buku2 hebat kok untuk dibilang keren *wink wink*. kalo soal nh dini.. hmmm.. tergoda juga sih, hehehe... coba kasih ide via pm! :D

Paman Tyo said...

Ketika novel mereka masih berupa cerber, banyak keluarga menantikan datangnya Kompas untuk berebut lembar yang memuat penggalan episode hari itu :D

yang punya said...

er.. gak inget, soalnya waktu itu usia saya belum mencapai taraf ikutan rebutan baca, hihihi...

ndoro kakung said...

bener-bener dah, you are what you read. bacaan menunjukkan usia seseorang, hahaha ...

yang punya said...

setuju ndoro.. *sambil ngeliatin majalah donal bebek yang berserakan di tempat tidur*

Anonymous said...

Congrats, jeng Ellen T! A well written, insightful and concise essay about Marga T. What do you think about her latest book, Sekuntum Nozomi, in particular Book 3 and 4? From what I have read in Wimar's Perspektif Online,that SN3 is Marga T's monumental book, her magnum opus. On the other hand Karmila and Badai Pasti berlalu are only Mills and Boon type of light romance for teenagers and bored housewives. Gema Sebuah Hati, Setangkai Edelweiss and Sekuntum Nozomi are the only 'literary' novels written by Marga, I think.
Cheers,
Fanny S

yang punya said...

Hi there jeng Fanny, thanks for stopping by. More thanks for the compliment that I don't actually deserve, for this by any account isn't an essay, hehehhe...

I haven't read Sekuntum Nozomi (all four books) though, yes, I did read about them in Perspektif. Misjudged them when they were just on sale. I thought that piece would only be another "ordinary" drama -- should've checked it first. Is anyone here generous enough to send the books to DC? *wink wink*

devie said...

lagi nyari ronggeng dukuh paruknya ahmad tohari, sampai sekarang belum nemu. novel mira w yang pernah tak baca cuman "bianglala di pantai senggigi" bener gitu ya judule? jauh lebih bagus dibanding novel2 chiklit sekarang menurutku.

[sedih]