Tentang Menjadi Tante

Hus! Bukan tante-tante yang "itu", tapi tante betulan ini (kalaupun iya, tak mungkin saya mengaku di sini toh?).

Barusan saya membuka surat-e (pembahasaindonesiaan e-mail, hehehe...) seorang keponakan yang lama tak saya dengar kabarnya. Dulu waktu masih di Indonesia saya juga tak terlalu akrab dengannya, meskipun rumah neneknya sempat menjadi salah satu tempat liburan tetap saya semasa SD dulu. Datangnya surat itu jadi kejutan manis tersendiri, walaupun saya masih harus berjuang membaca kalimat yang ditulis dengan huruf besar kecil khas ABG.

Ayah saya datang dari keluarga yang cukup besar, sembilan bersaudara, laki-laki semua. Untuk ukuran generasi lama sih lumrah saja. Tidak mengherankan pula bahwa akhirnya saya memilki puluhan sepupu dan keponakan. Bahkan, karena ayah saya anak nomor tujuh, saya sudah menjadi "nenek"! Tepat, dari seorang sepupu saya, alias putri paman pertama saya (wah, kayak film silat ya... "paman pertama", "paman kedua", heheheh...). Kondisi demikian juga yang membuat saya memiliki banyak keponakan yang usianya hanya berselang beberapa tahun dari saya, termasuk keponakan yang menjadi mitra domestik saya sekarang ini.

Menjadi tante buat saya keajaiban tersendiri, menandai waktu yang telah lewat. Rasanya baru kemarin saya tinggal di rumah mereka, masih seorang murid sekolah kinyis-kinyis, dan mereka juga masih anak-anak TK yang lari kesana kemari dan cerewet bertanya ini-itu... tahu-tahu mereka sudah sibuk dengan pacarnya masing-masing. Ada malah yang sudah menggendong anak. Wow. Tampil lebih dewasa dari tante-tantenya. Sebagian malah kelihatannya menganggap generasi saya sudah tua sekali dan ketinggalan jaman dan "gak asik" (walaupun karena pekerjaan, saya agak-agak dipandang keren, hahahahha... ). Ada yang aktivis mahasiswa, ikut demonstrasi, dan tinggal beberapa hari di gedung DPR menjelang perubahan rejim beberapa tahun lalu. Keponakan yang tinggal dengan saya sekarang juga sudah menjelma menjadi mitra sejajar, terutama urusan percurhatan. Sangat andalable untuk pemberian nasihat seputar percintaan, walaupun kebanyakan teoretik. Saya sih menang bagian pengalaman, hahahah..

Nah, sekarang balik lagi ke keponakan yang saya ceritakan di paragraf pertama tadi. Saya selalu mengingat keponakan ini sebagai seorang gadis (menjelang) remaja yang cantik, pintar, dan dalam beberapa hal tampak lebih dewasa dari umurnya. Dia masuk SD umur empat tahun, sempat lompat tingkatan dan kadang membuat onar kalau sudah bosan di kelas. Kalau tidak salah akhirnya oleh sang ibu dikembalikan ke tingkat semula, meskipun tetap saja dia masih murid termuda. Waktu nakal-nakalnya, dia menyebalkan kami semua. Tapi pada titik tertentu mendadak dia jadi manis, sampai sekarang. Untunglah, hehehehe... Saya mengagumi ibunya, sepupu saya, yang bagi saya sangat berperan besar dalam membentuk keponakan saya ini menjadi seperti sekarang. Sepupu saya telah merasakan pengalaman menjadi anak orang berada, sampai ayahnya bangkrut, dan mereka harus hidup prihatin. Kemudian sepupu saya menikah, dan suaminya ternyata brengsek. Perkawinannya dipertahankan karena.. apa ya? Karena agama dan adat kami yang tidak mempercayai perceraian, walaupun terjadi juga pada beberapa anggota keluarga. Paman saya -- yang memperoleh hiburan utama dari cucu tunggalnya, alias keponakan saya itu -- meninggal beberapa tahun kemudian, dalam kondisi batin yang masih sangat kelabu. Meskipun perilakunya setelah itu mendingan, suami sepupu saya tetap brengsek.

Duh, maaf ya kalau akhirnya malah menjelek-jelekkan orang. Habis dia memang brengsek sih, hehehee... Lagipula saya kan tidak menyebut nama, jadi harusnya tidak bisa dituduh melakukan pembunuhan karakter dong! Oya, sebagai tante yang keren dan mengikuti perkembangan jaman (termasuk secara rutin memperbaharui halaman friendster), setelah membalas surat-e sang keponakan, saya menelusuri google: siapa tahu ada informasi tentang keponakan saya itu. Yah, dia ada. Masuk dalam pengumuman sebuah instansi tentang penerimaan calon siswa untuk pendidikan setingkat diploma-1 yang diselenggarakan instansi itu. Kalau saya tidak salah hitung, usia keponakan saya sekarang 16 tahun. Huhuhu.. jangan sampai instansi tersebut nantinya dituntut karena mempekerjakan anak di bawah umur!

PS.
Saya baru menerima surat-e balasan dari keponakan saya. Ternyata dia sekarang kuliah di UI, Fakultas Ilmu Komputer. Ah, memang keponakan pintar tidak jauh-jauh dari tante yang pintar juga! *tante narsis mode on*. Bagus, bagus. Nanti tolong buatkan templet blog yang cantik buat Tante ya Sayang :D. Aih, aih.. di sana tidak ada cowok ganteng? Masak sih? Di sini banyak, tapi yang mau sama Tante jarang :p.

12 comments:

ikutan koment said...

tante memang narsis..

nananias said...

tanteeeeeeeeee bagi pengalamannya duuuummmzzzz... oiya yang cakep-cakep itu tolonglah ditunjukken halaman fs saya, siapa tau meski ga suka ama tante, mau ama yang di bali ini *kedip kedip*

Moose said...

tante ellen, tante ellen..., kapan dong aku punya Oom yang cakeep..?

Paman Tyo said...

Dear Tante Ini, bukan Tante Itu...

1. Kita, eh saya, kadang tak merasa bertambah tua, tapi tersadarkan setelah punya keponakan. Cukup 6 tahun waktu yang diperlukan seorang bocah ingusan pengejar layangan menjadi pemuda gagah yang pada hari Natal datang memperkenalkan pacar kepada keluarga besar.

2. Setelah punya anak? Apa lagi! Bocah mungil yang rasanya baru kemarin digendong tiba-tiba sudah menjadi gadis remaja mekar, senang berdebat dan berdiskusi.

3. Idem sama moose :) dengan tambahan: kapan saya punya keponakan lagi :D

mita said...

hihihi, jadi inget keponakanku, umurnya baru 5 taun (waktu itu). dengan 'brengsek'- nya dia teriak-teriak di kost-ku, "hari giniii, jombloooo !!" huahuahua. langsung bikin semua orang di kost-kost an merasa tertohokkk. dziggg.

yang punya said...

madam gitchuka: narsis mah emang bawaan orok, bukan bawaan oom ya, hihihi...

edsye nana: loh loh, kalo soal pengalaman, bukankah dirimu juga BANYAK? *uhukuhuk! moga2 abis ini gak dipelototin* jadiiii.. mau dibuat link ke fs pagemu? *winks*

jeng moosokol: hayahhhh..!!! maksudmu selama ini tante gak pernah dapet oom cakep? *nyambit*

paman tyo: eh bener loh pakde. garagara ponakan yg satu itu, saya jadi ngeliatin frensternya ponakans saya yg laen.. ya ampuuuunn.. ternyata saya kok.. eh.. sudah berumur yaaaaaa...

btw, 6 th itu termasuk untuk yg tadinya bocah ingusan terus jadi dokter hewan? *muka lugu*

en soal tambah ponakan: benernya saya sudah pernah nawarin ini ke ibu saya, dia boleh pilih mau menantu dulu atw cucu dulu, abis kayaknya kalo mau dua2nya sekaligus sekarang stok lagi kurang. eh, kok ya malah saya dideliki.

dek mita: coba ya, ponakan seperti itu harus dibrainwash dulu. maksudnya, mbok ya o jangan buka rahasia di depan umum, walopun itu emang rahasia umum!

Sontoloyo said...

with all the narcistic writing all around your blog..how could i hold myself not to comment ?? hahahhahahah...anyhow,anak sekarang emang pinter2..well mungkin juga karena ajunya emang pinter (minus hal percintaan) walaupun ngakunya banyak pengalaman.
mungkin karena peningkatan gizi kali yak ?
well anyway gue sih salut sama ponakan yang bersuami brengsek itu...ck...ck...ck dijaman para artis wanita menggugat cerai suaminya gitu loh.
Bukankah ini merupakan suatu pertanda bahwa seorang aju juga harus terus berkembang dan "Gaul" di mata keponakannya ? semoga yang positif !!

yang punya said...

sondi: hah, emang lo aja kedemenan bisa nyela2 gw.. koreksi son: yg suaminya brengsek itu SEPUPU gw lagi, bukan ponakan gw. kalo soal aju yg terus berkembang dan gaul, itu sih sudah berjalan.. termasuk berkembang ke kanan kiri, hahahha... *fisik, fisik!*

tito said...

tanteee....yang cakep di friendster itu saya bukan? thanks ya udah di add..hi..hi.hi.

tito said...

loh??!!! paman ngomongin aku toh?!

lenje said...

dokwan tito: asl pls? :p. btw, kok yakin bahwa yg dimaksud dengan pemuda "GAGAH" itu kamu? coba tanya duluuuuu...

Nala "Tamu Baru" said...

Miss Caranita,
Salam kenal,
Aku Nala, wartawan Koran Jakarta...tulisan ini sungguh menarik, btw,boleh ngobrol-ngobrol dengan Anda mengenai potret salah satu keluarga masa kini? aku lg buat tulisan mengenai tren keluarga indonesia dalam rangka Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2008.

Please dong Mbak, kl oke (semoga ok siy..)segera kbari aku via sms ke 0816 313 8065.
terima kasih

Nala Dipa Alamsyah