Yang Tidak Bermutu Dinihari

Sudah beberapa saat sebenarnya saya pengen nulis tentang ini. Gara-gara baca curahan hati seorang teman maya (tepatnya: sesama penulis maya). Tentang luka. Tentang ketidakjujuran. Hm, bisa jadi kejujuran yang disampaikan dengan cara tidak langsung, walau sama-sama menyakitkan. Tentang ketidaktahuan yang menikam. Atau barangkali ketidakmauan mendengar kata hati? Berusaha menipu diri sendiri? Berupaya meyakinkan diri bahwa semuanya bisa diatasi?

Padahal semuanya sudah di depan mata, selama ini. Coba kita merekam omongan kita sendiri waktu ngobrol dengan sohib/saudara/teman chatting/dll. dan mendengar kembali. Kita pasti mengakui bahwa kita yang terlalu bodoh, buta, naif, atau tidak mau tahu. Kebenaran memang sering pahit. Dan mahal, Sayang. Apalagi kalau pakai tiket penerbangan internasional.

Ketika saya membaca tulisan seseorang yang mengaku pernah jadi pihak yang, ehm, mengkhianati (emang rasanya istilah ini dangdut banget, tapi apa dong padanan katanya yang rada keren dikit?) saya sempat berharap akan memperoleh penjelasan kenapa.. er.. pengkhianatan bisa terjadi. Ternyata saya kecele, soalnya yang bersangkutan cuma menulis bahwa dia tahu itu salah, dan dia berusaha tidak melakukannya lagi. Well, mungkin memang ini bukan sesuatu yang bisa dijelaskan ya.

Namun juga bukan berarti jadi justifikasi untuk tidak berkata terus terang seandainya rasa itu memang sudah hilang kan? Karena tidak ada yang salah kok pada ketiadaan rasa. Lebih baik kau menghadapi air matanya, sesenggukannya, pertanyaan-pertanyaannya, kepalan tangannya (eh, kalau ini emang rada menakutkan deng!) daripada dia mengetahuinya dari orang lain (walau mungkin kau akan memilih yang terakhir). Kalau kau tidak berterus terang karena ragu akan perasaanmu sendiri? Haduh, you can't have your cake and eat it too! Jangan minta terlalu banyak ah :). Dengan seorang mantan, saya pernah menyepakati waktu break dua minggu, memberikan kesempatan padanya untuk berpikir. Ketika akhirnya toh dia bilang bahwa dia tidak bisa terus lagi, saya memang sedih, tapi saya sangat menghargai keterusterangannya. Pertemanan tetap jalan, bahkan saya sempat-sempatnya memperkenalkannya dengan teman saya yang lain. Nah, kalo gini enak kan? :)

Halah, lagi-lagi soal ini. Maaf ya kalau terkesan menyudutkan satu jender. Eh, saya pernah juga loh jadi yang harus memutuskan. Maksudnya, bukan memutuskan karena dipaksa keadaan (misalnya: sudah sering dicuekin sehingga gak ada jalan lain selain putus), tapi karena memang ilfil. Berat memang, apalagi kalau yang harus diputuskan pada dasarnya baik dan sebelumnya tidak ada masalah berarti. Tapi akan lebih jahat lagi kalau saya melanjutkan hubungan dengannya secara de jure sembari mencari-cari kesempatan lari, menyakiti hatinya bolak balik supaya dia benci saya -- walah, saya bakal kehilangan teman dong! Dan saya paling gak suka kehilangan teman.

Moral tulisan ini? Gak ada. Cuma calakadut gak bermutu dinihari, sementara saya masih harus lembur mengerjakan tugas kantor. Lagian siapa bilang saya bermoral? Saya kan cuma seorang masochist in denial, hihihi...

8 comments:

mellyana said...

hiks hiks hiks :(

fisto said...

dua2nya sama2 berat...jadi yg diputusin ato yg harus mutusin...

hmm...jadi maoschist juga ya ternyata...

Anonymous said...

Kalo jadi cikal bakal penyebab pengkhianatan gimana? kayak kamu ;)

yang punya said...

Wah, baru liat komentar si anonymous nih. Saya jadi penyebab pengkhianatan? Wahhhh... kehormatan besar, hebat banget dong sayah! ;)

Anonymous said...

Kayaknya bukan hebat, tapi emang udah bakat kamu kok hihihi, bawaan gitu. Dan mungkin dah takdir jadi seperti itu

yang punya said...

oiya ya, mungkin juga. lagian kan saya emang sudah nulis di postingan saya kalo saya emang gak bermoral *manggut2*

nananias said...

ini soal immoral ya. ehmm immoral ga menuliskan judgment berdasar satu tulisan saja?

mau antri beli moral. katanya dijual murah di indonesia. semurah dosa

Anonymous said...

akhirnya nyadar, ngaku juga ;)