Kisah Cinta Baru

Pria tinggi besar itu merupakan pengunjung tetap gereja saya. Tidak selalu hadir pada jam kebaktian yang sama dengan saya, tapi kedatangannya jarang terlewatkan pandang. Alasan pertama adalah sosoknya yang menonjol di tengah-tengah kerumunan jemaat yang rata-rata paling-paling 170 cm. (Saya rasa dia mencapai 180 cm-an).

Alasan kedua adalah keromantisannya.

Kira-kira tiga tahun lalu, saya dan adik saya kerap melihatnya datang dengan seorang wanita cantik, tinggi, ramping. Pasangan serasi. (Membuat kami waktu itu mengomentari: "Memang ada orang yang betul-betul beruntung memperoleh padanan yang sesuai!"). Kebaktian di gereja kami selalu diawali dengan menyalami sesama anggota jemaat yang duduk di sekitar kami. Nah, pada waktu-waktu itu, mas Tinggi Besar -- atau untuk singkatnya kita sebut saja mas TB karena saya tidak tahu namanya -- dan pacarnya akan saling mencium tangan.

Saya tidak tahu apakah anggota jemaat yang lain cukup awas -- atau cukup ingin tahu -- untuk memperhatikan mereka. Keduanya juga tampak selalu duduk merapat. (Imajinasi saya berkata bahwa sepanjang kebaktian mereka akan saling menautkan jari). Sesekali mas TB menoleh ke pacarnya dengan ekspresi yang meluluhkan hati. Ya jelas, hati pacarnya dong. Cuma sayangnya saya tidak ingat apakah wanita cantik itu juga suka melemparkan pandangan mesra ke mas TB!

OK, kembali ke cerita kemesraan sepanjang kebaktian itu.

Setelah beberapa lama, adik saya dan saya mulai melihat mas TB datang sendirian ke gereja. Atau bersama orang tuanya. Atau teman/saudara/adiknya. Pendek kata, wanita cantik-tinggi-ramping itu sudah tidak kelihatan lagi.

Saya, dan adik saya, mulai membuat spekulasi-spekulasi. Biasa, kurang kerjaan. Terkaan pertama sudah pasti: mereka putus.

Namun, karena ingin memantapkan pola berpikir positif, terkaan kami berikutnya adalah: wanita itu sudah pindah kota. Mungkin ke luar negeri, sekolah lagi. Atau ditempatkan kantornya di sana. Atau apalah.

Mungkin karena kemampuan berkhayal kami semakin menurun seiring pertambahan usia, dan karena toh kami tidak kenal mas TB, tebakan-tebakan kami berakhir di sana. Kami lebih tertarik memperbincangkan siapa artis yang duduk di depan kami, atau kenapa rambut pak pendeta semakin panjang, atau betapa sumbangnya paduan suara ibu-ibu Minggu itu, dan hal-hal tidak penting lainnya.

Sampai hari Minggu ini (Yak! Betul! Minggu ini!) ketika kami melihat mas TB masuk diiringi seorang wanita cantik-mungil. Walaupun sudah menduga bahwa wanita cantik-mungil ini, yang tingginya hanya mencapai lengan mas TB, adalah orang istimewa buat mas TB, perkiraan kami itu baru dikuatkan setelah -- yup, you guessed -- keduanya saling mencium tangan pasangannya....

Wajah mas TB tampak dipenuhi seri yang tidak biasa. Berkali-kali ia melirik wanita di sampingnya, seolah-olah merasa tidak cukup mensyukuri kesempatan yang diberikan Tuhan sekali lagi untuk memiliki tempat berbagi.

Selamat bahagia deh untuk mas TB. Moga-moga sekali ini kisah itu bisa berlanjut ke tahap berikutnya, karena tampaknya buat mas TB memiliki pasangan merupakan hal yang cukup penting. (Saya menulis demikian, karena buat banyak orang itu bukan soal penting!)




2 comments:

maudy said...

ahahahahahahahhaha..believe me, mbak, this'd be a great story if someday he turns out to be ur LOVA'..ahahahhahahaaha..

kéré kêmplu said...

wahai tb, sadarkah kau bahwa ada dua orang yang selalu memperhatikanmu, tanpa niat jahil, tanpa takjub berlebih, tanpa dengki mengganjal, semata tulus riang? minggu depan mengangguk takzimlah kepada mereka, jabatlah tangan mereka, dan jika ternyata segala sesuatunya lancar, maka undanglah mereka berdua pada hari bahagiamu. :)

ttd,
mr deacon