Dari Dalam Taksi: Jakarta

Saya memandang jalan raya di samping kiri saya lewat jendela sebuah taksi. Di luar panas, berdebu, panas, panas, panas. Saya berusaha menahan kantuk, karena sekali saya membiarkan mata saya terkatup, saya akan tertidur sepanjang perjalanan menuju kantor. Akhir-akhir ini matahari Jakarta sebelum tengah hari sudah terasa terik menyengat kulit. Bahkan kulit yang berada di balik kaca berpelapis, dan terlindungi SPF 15 ditutup secarik kain. Membaca buku atau main game di ponsel cuma membuat pusing kepala. Hujan yang diharapkan menyusul kemudian ternyata hanya sekali-sekali muncul.

Dengan kondisi yang semakin tidak nyaman, sebenarnya saya juga semakin tidak suka naik taksi. Mengendarai mobil sendiri, walaupun capek, lebih bisa diterima. Keharusan berkonsentrasi - atau membagi konsentrasi antara menyetir, menyanyi, mendengarkan radio, dan menerima telepon - membuat perhatian saya teralih dari kesemrawutan yang menyesakkan. Naik bis? Pemalas seperti saya yang harus beberapa kali berganti angkutan umum untuk mencapai kantor sudah tentu memilih naik taksi. KRL? Bisa sih. Tapi itu berarti saya harus bersalin pakaian di kantor, memakai kembali wewangian, menyisir rambut... ribet! Hidup sudah cukup susah tanpa harus ditambah keruwetan yang tidak perlu seperti itu.

Jadi saya kembali pada taksi. Walau dengan seperempat hati. (Kurang dari setengah!)

Untuk berjaga, saya berusaha memperhatikan bangunan-bangunan yang kami lewati, yang sering tidak saya perhatikan kalau sedang menyetir sendiri. Wah, saya baru tau kalau di dekat pojokan itu ada kafe kecil yang lucu. Di sebelah sana ada penjahit yang tampaknya cukup rapi jahitannya. Ada juga toko di ujung Mampang yang menjual perabot-perabot dekorasi rumah. Hm... ruko baru lagi. Bakal ada yang menyewa ruangannyakah? Atau nasibnya akan berakhir seperti banyak bangunan serupa, yang terlantar karena pembangunnya tidak sanggup merawatnya lagi, sedangkan penyewa tak kunjung datang?

Jakarta bertambah sumpek. Tapi, herannya, terus dikerubungi. Seperti seorang setengah baya yang semakin lusuh, semakin berusaha berdandan, dan karena kaya bisa menarik pengagum, baik karena yang tulus menyukai maupun karena yang berharap memperoleh sesuatu. Kalau laki-laki: Jakarta adalah om-om yang semakin keriput, berkeringat, muka berminyak, tapi suka mengenakan baju ketat tanpa melihat perutnya yang membuncit, membuka dua kancing baju teratas memperlihatkan dada dan leher yang dihiasi kalung emas manyala. Jari-jari om Jakarta dihiasi cincin bermata besar-besar, dan yang paling dibanggakannya adalah akik selebar alas cangkir. Kalau perempuan: Jakarta adalah tante-tante dengan rambut menipis yang dicat merah dan disasak tinggi-tinggi, leher dan muka berkerut yang dicoba ditutupi dengan bedak tebal-tebal, sering terlalu putih sehingga kontras dengan warna asli kulit yang tampak di lengannya, perhiasan berlian menghiasi kuping-leher-pergelangan tangan dan kaki-jari, tas desainer yang tidak perlu cocok dengan baju atau acara yang dihadiri namun harus kelihatan mahal.

Pendek kata: norak. Jakarta kampungan? Iya. Kota kebanggaan saya, Surabaya, pernah dijuluki: "The big city with kampung mentality". Dulu saya sebel mendengarnya. Sekarang? Enggak ada apa-apanya dibanding Jakarta, karena orang Surabaya tidak pernah menganggap kotanya kosmopolit walaupun tetap punya kebanggaan diri yang berlebihan. (Iyalah! Arek Suroboyo, cuk!)

Jakarta jadi kelihatan kampungan karena segala hal kemewahan itu ditempel sana-sini tanpa melihat estetika, dan diselang-seling kekumuhan.

Tapi saya toh bertahan di Jakarta. (Untungnya saya punya pilihan!)




3 comments:

kéré kêmplu said...

a big village named jakarta. sampai hari ini pun sebetulnya saya ndak kerasan. tapi apa boleh bikin, saya belum menemukan pilihan kota lain.

Hani said...

hi lenje (nama sebenarnya kah?) terima kasih ya infonya. aku cuma dikasih tau ama temenku itu kalo indo nggak punya hub.diplomatik ama latvia makanya mereka cari visanya ke austria. salam kenal ya :) orang surabaya ya?

maudy said...

i once thought the same way about this jakarta city, mbak.
until that day when ive already left the city for almost 6 months, i started to miss its hectic life, its dirty corners (cause zillions kilos of garbage, they were just being swept to the corners everywhere), its grey air (oh yes trust me, ive tested this on my high school lab, that jakarta's air have been contaminated by some chemical that make the color grey)..

jadi mbak, biar gitu2..jakarta tuh tetep dikangenin ya.. jakarta ya emang jakarta..klo ga begitu bukan jakarta..*apa ini salah satu bukti ke-kampungan-an org jakarta ya, yg tetep bangga jadi warga jakarta walaupun...??*

:)