Sekolah Minggu

Surya bersinar, udara segar, terima kasih
Di tepi pantai ombak berderai, terima kasih
T'rima kasih seribu (oh, t'rima kasih seribu)
Pada Tuhan Allahku (oh, pada Tuhan Allahku)
Aku bahagia kar'na dicinta, terima kasih

Petikan di atas adalah syair sebuah lagu yang saya pelajari di Sekolah Minggu, salah satu kesukaan saya sehingga masih bisa saya ingat sampai sekarang. Kadang-kadang dalam kebaktian rutin di kantor kami menyanyikannya, dan hal itu membawa kenangan yang manis buat saya.

Seperti banyak anak yang dibesarkan secara Kristen, orang tua saya memasukkan saya dan adik saya ke Sekolah Minggu. Karena pada dasarnya pemalu dan waktu masih kecil cenderung lebih suka menyendiri, mula-mula saya sebal sekali harus mengikuti kegiatan yang mengharuskan saya untuk berkumpul dengan sekian banyak wajah yang belum saya kenal. Untunglah beberapa anak tetangga yang menjadi teman bermain saya juga masuk Sekolah Minggu yang sama. Terus terang saya tidak ingat persis bagaimana Sekolah Minggu saya yang pertama di Jakarta itu, tapi saya bisa membayangkan bahwa tempat itu kemudian menjadi sangat menyenangkan buat saya, dengan guru Sekolah Minggu yang mengajarkan berbagai lagu baru dan menceritakan kisah-kisah dari Alkitab dengan gambar-gambar menarik.

Setelah saya bisa membaca, ibu saya membelikan sejumlah komik cerita Alkitab berseri, dan kitab Perjanjian Baru yang telah ditulis ulang dalam bahasa sehari-hari dan dihiasi ilustrasi sederhana berupa garis-garis sosok orang ala "The Saint" (aduh, saya lupa namanya, tapi kalau tidak salah "Kabar Baik untuk Masa Kini"). Yang terakhir itu menjadi bacaan saya sehari-hari, sampai kumal dan lembaran-lembarannya terlepas, serta sampulnya entah di mana.

Setelah itu, walaupun saya masih menikmati waktu-waktu ber-Sekolah Minggu dan Pondok Gembira (kebaktian khusus anak-anak tiap hari Kamis), saya mulai tidak nyaman dengan acara pembacaan kisah-kisah Alkitab. Soalnya sederhana: persepsi guru terhadap satu kisah tidak sama dengan persepsi saya.

Pindah ke Manado, saya mendapati bahwa di sana kita memanggil guru Sekolah Minggu dengan sebutan Melayu: "Encik" untuk guru wanita dan "Engku" untuk yang pria. Saya masih ingat nama salah satu Encik, Encik Elsye, yang kemudian menikah dengan salah satu Engku. Salah satu ciri khas tinggal di Manado saat itu adalah -- apalagi kalau tinggal di kompleks perumahan -- perayaan ulang tahun yang dipimpin oleh guru Sekolah Minggu. Kalau dilihat sepintas, terlebih oleh yang belum pernah mengalami, perayaan ultah seperti itu pasti membosankan. Ultah kok diisi kebaktian. Tapi waktu itu rasanya wajar-wajar saja, dan cukup menyenangkan. Walaupun tidak ikut menyanyi dan berdoa bersama, tapi teman-teman yang berbeda agama tampaknya ikut menikmati cara demikian, dan orang tua mereka tidak ada yang protes. (Sebaliknya, kami juga beramai-ramai merayakan Lebaran. Toleransi agama seperti inilah yang akan selalu saya rindukan dari Manado.)

Meskipun secara jujur para guru Sekolah Minggu saya dulu tidak berarti cukup dalam untuk saya, tapi saya selalu mengenang mereka dengan rasa hormat. Tidak gampang memberikan pengajaran agama secara benar dan menarik kepada anak-anak. Lebih sulit lagi untuk selalu menjadi contoh yang baik kepada mereka. Sering orang tua berharap terlalu besar kepada para guru Sekolah Minggu, karena mengabaikan tugas mereka mereka sendiri untuk memberikan pendidikan rohani kepada anak-anak mereka. Padahal, guru Sekolah Minggu juga manusia yang memiliki persoalan pribadi masing-masing, dan tanggung jawab utama menumbuhkan iman pada anak-anak kan terletak pada orang tua. Para guru Sekolah Minggu ini juga harus mengeluarkan dana sendiri untuk membeli berbagai buku-buku pengajaran agama untuk anak-anak, membuat alat-alat peraga, kadang membagikan permen atau kue kecil, padahal mereka tidak diupah oleh gereja (guru Sekolah Minggu adalah pekerjaan sukarela).

Saat saya menyaksikan paduan suara anak-anak di gereja, dibimbing oleh guru Sekolah Minggu mereka, selalu terbersit kekaguman saya. Banyak di antara mereka usianya jauh lebih muda dari saya, tapi mereka sudah melakukan hal yang jauh lebih berat.

Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah." (Matius 18:16)

Diberkatilah para guru Sekolah Minggu.

4 comments:

emaq said...

kalau engkau kagum , kenapa sih kok gak belajar jadi guru sekolah minggu aja ?

Sunny said said...

Saya Muslim, tapi waktu masih kecil pengen banget ngerasain ber-sekolah Minggu. Itu semua gara2 sering baca kisah hidupnya Laura Ingals di "Seri Rumah Kecil".

Boe said...

nggak pernah telat lho buat nyoba-nyoba 'menanggung beban yang lebih berat' mbak Lenje ... itung-itung fitness spiritual :)

rd said...

hey there,
you left a comment in my blog. btw, how did you bump into my blog?

thank you,
-ardita