Mercy

Mercy namanya. Umurnya berkisar 25-26 tahun, cantik-menarik, tinggi-langsing, cerdas, ceriwis, bersuara indah ditunjang oleh tehnik vokal yang memadai hasil tempaan pelatih paduan suara ternama di negeri ini. Setelah lulus dari Atmajaya, dia memilih berkarir di jalur hiburan: menjadi MC, menjadi penyanyi kafe (kau dapat menemuinya di Kafe Satu Lagi, KTS, tiap hari Sabtu), dan lain-lain yang dipandangnya sejalan dengan kecintaannya terhadap dunia seni pertunjukan.

Setelah beberapa kali menyaksikan penampilannya di kafe yang mungil namun artistik tersebut, baru pada pergantian hari tadi kami sempat bercakap-cakap. Melihat kemampuannya berinteraksi dengan para pengunjung, kami - aku dan adikku - tertarik untuk menggunakan jasanya pada beberapa kesempatan yang sedang kami rencanakan. Di antara hal-hal umum dalam pembicaraan kami, seperti standar upah, konsep acara, dan sebagainya, Mercy menceritakan beberapa hal tentang dirinya, tentang perjuangannya menapaki pilihannya ini.

"Kalau kalian lihat CV saya, pasti kalian ngakak-ngakak," katanya dengan air muka serius. "Isinya mulai dari ng-MC, nyanyi... sampai jadi usher."

"Usher?" adikku menyahut, spontan tertawa geli.

"Iya, waktu acara.. (apa tepatnya, aku lupa)".

Selanjutnya ia membeberkan bahwa di antara beberapa tawaran yang diterimanya, salah satunya adalah menjadi MC pertandingan bola tingkat SMP.

"Sekarang saya kan 'menjual' diri, karena saya tidak ada yang 'menjualkan'. Saya merasa sekarang ini saya belum perlu manajer, toh saya masih bisa menangani sendiri semuanya. Saya juga merasa belum perlu menetapkan standar tertentu. Saya lihat-lihat dulu acaranya apa, lokasinya di mana. Kalau untuk keperluan gereja saya tidak menerima bayaran."

Dia bercerita bagaimana dia dan rekannya pernah 'salah' menerima tawaran, yang diketahui belakangan digelar di kawasan Cipinang, sementara ia dan rekannya tidak menguasai musik dangdut. "Karena itu sekarang saya selalu menanyakan kepada pemilik acara, konsepnya apa, tempatnya di mana."

Wajah manisnya yang putih, dengan alis tergambar rapi, menunjukkan ketegaran dan tekad mengatasi berbagai rintangan yang mungkin dihadapinya dalam menempuh jalan yang telah dipilihnya ini, namun bukan tanpa keikhlasan. "Buat saya sekarang ini jumlah (bayaran) tidak harus paling penting, karena saya pikir saya bisa membangun networking melalui tawaran-tawaran yang saya terima. Tapi ya... tentunya saya harus lihat-lihat dulu. Kalau si pemilik acara bilang acara ini untuk panti asuhan, tapi digelar di hotel Mulia, bagaimana ya..." "Saya juga pernah di-'ganjar' sepuluh kotak nasi bungkus".

Kami berpisah dini hari itu setelah saling bertukar nomor telepon. Dia harus cepat-cepat pulang, karena harus mengisi acara pada pukul 8 pagi.

Di tengah-tengah langkahku menuju tempat parkir, aku membatin dengan rasa hormat yang setinggi-tingginya pada Mercy, dan orang-orang lain yang berjuang untuk apa yang mereka inginkan, tak peduli semuda apapun usia mereka. Tengah malam menandai usiaku yang memasuki 32, namun aku tak ingat pencapaian yang telah kucatat, atau perjuangan yang telah kulakukan. Apa yang kuperoleh selama ini seolah-olah muncul begitu saja, tanpa aku perlu terlalu berusaha. Sudah saatnya aku berpikir untuk menata ulang kembali hidupku.

Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri. Selamat berjuang pada diriku sendiri.

1 comments:

maudy said...

happy belated birthday mba..kamrin ini dr jkt..dan di rumah ga ada komputer jadi ga bsa update apa2, ga bsa cek apa2 juga deh :( anyways, happy birthday ya. have u make it special by urself?