Stereotip Catur

Teman saya pernah menggugat saya karena saya tidak bisa main catur. Menurutnya, salah satu elemen identitas kesukuan saya adalah catur, di samping menyanyi.

Saya balas mengatakan padanya bahwa nenek saya payah dalam berdendang. Saya hanya bisa mengatakan lagu apa yang sedang dinyanyikannya setelah saya menyimak syairnya. Itu pun kalau kebetulan saya tahu lagunya. Untung nenek saya cuma bernyanyi di gereja, tertutupi oleh suara para anggota jemaat lain yang -- yah, tipikal -- kencang.

Kembali ke soal catur. Terus terang, walaupun pernah (bahkan sering!) mendengar stereotip orang Batak dan catur, tapi saya jarang mendapati kawan-kawan sesuku saya main catur di manapun mereka berada. Bahkan dalam acara-acara informal, arisan keluarga, dan sebagainya, yang tentunya memberikan keleluasaan untuk terlibat dalam berbagai bentuk hiburan, termasuk catur.

Tanpa bermaksud membentuk stereotip baru, apalagi mempromosikan rasisme dan primordialisme, saya cuma bertanya-tanya kenapa bukan orang Jawa, misalnya, yang dikaitkan dengan catur. Toh kita sudah mengenal permainan catur Jawa. Saya sih tidak pernah mendengar soal catur Batak, hehehhe...

7 comments:

mellyana said...

gak bisa nyanyi? gak bisa catur? tapi bisa bersuara kencang kan :))

pecatur beken kita juga gak ada loh yang batak.

grace said...

you are not alone, ms. ellen. I am an ambonese who also can't sing properly..in fact, I am musically-challenged! heheheheh..

nananias said...

tapi jij cucoklah jadi orang batak. bersuara bagus dan ketawanya kenceng

tambahin tuh stereotioenya dengan ketawanya kenceng.

:D

^Ray21^ said...

ga harus bisa catur ko'....

asal masih ahli dalam bernapas, makan, dan ngeluarin kotoran, manusia udah bisa dianggap sempurnaaaa..!!! sempurna...!! ( pake nada sempurna-nya andra and the backbone... )

^piss...ang goreng gurih rasanya...^

-Fitri Mohan- said...

aku malah nggak ngerti kalau ada catur jawa. mungkin itu disesuaikan dengan tempatnya kali yak. jadi kalau di jawa ya catur jawa. kalau di papua ya catur papua (ngawur dot com).

ps. eda, aku sempet balik ke big apple dua hari ini buat setor muka, hahahaha.

richard said...

kalau tak salah, "catur jawa" itu dimenangkan oleh yang lebih dahulu habis. Benarkah yang itu?
Entah berasal dari mana istilah "jatur jawa" itu, namun jika dieksplorasi lebih dalam, lalu di politisasi akan berbahaya bagi stabilitas nasional. Why? Karena catur jawa membonceng suatu analogi , dimana orang yang nampaknya suka memberi, namun tujuannya supaya menang. Jika embel-embel "Jawa" dikaitkan dengan permainan itu, maka orang Jawa terkesan murah hati, padahal membantai.
Itulah sebabnya saya tak ingin menyebutnya sebagai "catur jawa". Menghina zekali bah! Mari kita meluruskannya, dan memberikan nama baru, yaitu: "CATUR ROBOT GEDEK" Lho kok? Iya, robot gedek kan suka memberi permen terlebih dahulu sama korbannya, baru kemudian "dibantainya".
He he he....terlalu jauh ya? Namanya juga bahas catur. hiks, hematutu!

yang punya said...

Melly: Jangan tanya mah kalo suara kencang, hehehe.. Di barisan Grand Masters Indonesia ada nama Batak juga, tapi gaungnya gak ada -- karena gak banyak!

Grace: We should test that in a karaoke session!

Eda Nana: Sepertinya ketawa kencang bukan monopoli Batak aja loh. Gimana kalo, ehm, Nias? :D

Ray: Heh? Apa hubungannya dengan Batak?

Fitri: Mosok gak pernah denger catur Jawa? Apa sama kasusnya dengan gak adanya rumah makan Padang di Padang?? Hwaaa... jadi sekarang udah balik Tennessee lagi jeng?

Richard: Haduhaduhaduhhh... usahamu untuk menjelaskan bakal menyentuh area stereotyping!