I hate it when people see the wound in my heart. I have to stay strong, appear as if nothing can ever hurt me and tear me apart. Because I don't want to be torn apart.
Of course there are times when I cannot stop tears from falling down my cheeks. Like when I see your name popping up on my computer monitor.
I miss you. A lot. My heart bled when you didn't reply to my messages, because I needed to talk to you, despite the thousand of miles separating us. Because your words always manage to warm me up. Because I ought to feel your presence that keeps me strong.
Because you have been, and will always be, a very dear friend to me. You've owned a special place in me.
Deep inside my heart, I know that you care for me. That your love endures, the philia love. That you wish you could be there for me. Therefore, I sometimes detest myself for not understanding it and for letting myself feel rejected, while it is totally not true.
Your name is right there, in front of me. Your window. I still can't decide whether I am going to call you and take the risk of once again feeling turned down because you don't answer me immediately. Or whether I shall just leave you there, no risks, but I will lose the chance to express how I long to chat with you.
Please stay with me, Brother. I need you.
Especially to my sister in Ciudad de Mexico. Don't be afraid to wear your heart on your sleeve!
I cry when I see your name
Posted by
caranita
at
Tuesday, June 07, 2005
6
comments
Dialek lokal dan logat nasional
Terus terang, isian kali ini terinspirasi oleh posting seorang blogger mengenai gegar budaya. Lepas dari seringnya topik ini dibahas di berbagai forum formal dan informal, termasuk dengan berbagai referensi dan kiat untuk mengatasinya, saya kira isu ini tidak akan pernah terlalu basi karena hampir semua dari kita pernah mengalaminya. Terlebih setelah revolusi teknologi membuat bumi semakin tak terbatas. (Entah beberapa tahun lagi, setelah kita mungkin bisa menjalin percakapan maya dengan makhluk planet lain -- dengan catatan: mereka benar-benar ada)
Saya termasuk orang yang beruntung karena memiliki orang tua dengan pekerjaan yang menuntut untuk berpindah tempat beberapa kali, sehingga saya dapat melihat sendiri berbagai perbedaan bahasa, cara pikir, makanan, dan sebagainya, dan kondisi demikian memaksa saya untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal tersebut secara relatif cepat. Dulu tidak terpikir oleh saya bahwa pekerjaan saya sekarang akan memiliki nuansa serupa, dengan tantangan yang lebih besar lagi, bukan saja karena saya tidak hanya berpindah propinsi melainkan berpindah negara, namun juga karena orang dewasa pada umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dibandingkan anak-anak. Namun saya bersyukur karena kekayaan pengalaman itu, yang sangat membantu saya menghadapi berbagai perubahan lingkungan.
Yang ingin saya sorot di sini sebenarnya bukan masalah gegar budaya per se, apalagi cerita diri sendiri yang bisa-bisa makin menonjolkan narsisisme saya, hehehehe... Saya ingin membahas sedikit mengenai logat bicara, yang waktu itu baru saya singgung dalam percakapan dengan Apey, kawan lama yang berhasil saya hasut untuk menjadi seorang blogger juga. Sejalan dengan stereotip umum bahwa obrolan antar perempuan diwarnai cerita tentang orang lain, waktu itu pembicaraan kami memunculkan nama seorang teman bersama, yang sudah cukup lama tidak kami temui. Kebetulan Apey memiliki kesempatan untuk bertukar kata dengannya sejenak, yang kemudian mendorong saya untuk bertanya: "Bagaimana logat bicaranya? Semakin 'Jakarta', kah?"
"Begitulah... aku sampai hampir-hampir tidak mengenali suaranya."
Kalau saya sampai mengangkat isu logat bicara, tidak lain karena saya mencurigai bahwa teman kami tersebut sudah sedemikian menyesuaikan diri dengan Jakarta, kota yang sekarang ditempatinya, sampai menganggap diri "anak Jakarta" lengkap dengan logat Jakarta. Hal yang saya temui di banyak teman saya yang lain.
Sebenarnya toh tidak ada yang salah dengan itu. Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Tinggal di Jakarta, bicaralah dengan logat Jakarta. Saya pun menggunakan dialek ini di lingkungan saya sekarang, kecuali bila bertemu dengan teman-teman "sekampung". Surabaya, maksud saya. Otomatis saya lebih suka bicara dengan cara Surabaya, yang rasanya kok lebih pas. Mungkin karena itu saya kerap tergelitik bila mendengar orang daerah, Surabaya khususnya, yang berbicara dengan logat yang sangat Jakarta di kotanya sendiri.
Menjadi pusat hampir segala-galanya di Tanah Air, Jakarta memang akan selalu dijadikan parameter kemajuan, sekaligus target pencapaian. Terlebih buat "putera-puteri daerah". Apalagi yang masih berada dalam rentang usia remaja. Menggunakan busana atau perlengkapan lain yang dikenakan para remaja Jakarta berarti menjadi bagian dari kelompok yang sadar mode. Dan tengoklah radio-radio dengan pangsa pasar remaja di daerah-daerah: sangat lumrah bila para penyiarnya bicara dengan logat Jakarta. Majalah-majalah remaja akan menggunakan ungkapan khas remaja Jakarta dalam penulisannya. Sebuah kuis berbasis polling pernah mengungkapkan bahwa acara televisi dengan muatan "lokal" yang paling banyak diingat adalah yang menggunakan dialek Betawi, yang walaupun tidak sama persis tapi jelas merupakan sumber logat Jakarta yang dikenal saat ini. Dalam kaitan ini, saya teringat seorang kenalan lain di Surabaya dengan dialek Jakarta yang cukup kental. Saya dengan lempang pernah mempertanyakan hal itu kepadanya, dan dijawab: "Oh, soalnya saya memang baru pindah ke Surabaya sih."
"O ya? Sejak kapan?"
"Kelas 6 SD".
Saat percakapan ini berlangsung, kami sudah sama-sama kuliah. Di Surabaya, jelas.
Pendek kata, dialek Jakarta menjadi dialek nasional. Memang, sempat timbul kekuatiran sejumlah pihak di daerah bahwa logat daerah akan semakin menyurut penggunaannya, sehingga muncullah konsep penggunaan dialek lokal untuk acara-acara stasiun televisi yang berpusat di daerah, seperti JTV. Yang unik dari JTV adalah bahwa suplai acara dengan bahasa pengantar dialek Surabaya ini diperoleh juga dari Voice of America. (Catatan: Nadia Madjid lumayan lancar menggunakan dialek ini, walau telinga saya agak-agak gatal mendengarnya).
Di sisi lain, sebenarnya tidak ada yang salah dengan nasionalisasi dialek Jakarta. Sama seperti sah-sah saja bila orang tidak memiliki keterikatan emosional dengan tempat di mana ia dibesarkan, sehingga memilih untuk seratus persen menjadi bagian dari wilayah barunya; dan hal ini berlaku di manapun. Bila saya habis-habisan mengecam orang yang memilih untuk menggunakan dialek nasional ini di kotanya sendiri, orang lain boleh mengkritik saya yang hampir-hampir tidak bisa menggunakan bahasa Batak, daerah asal keluarga saya.
Pertanyaan berikut, yang tidak secara langsung mengenai bahasa, tapi menjadi konsekuensi logis dari perdebatan mengenai dialek adalah: apa sebenarnya manfaat pemeliharaan bahasa daerah? Sebabnya, hal tersebut dapat mengarah pada pertanyaan lain: apa manfaat pemeliharaan budaya? Ketika berbagai jargon mengenai pemeliharaan warisan budaya dikembangkan, saya belum melihat banyak penelitian mengenai kegunaannya. Kecuali bila dipandang budaya tertentu secara signifikan mendukung aspek-aspek penting dalam kehidupan manusia, misalnya adat suku tertentu yang melarang penebangan pohon selama beberapa tahun, yang tentunya sangat relevan dengan upaya pemeliharaan lingkungan hidup.
Saya beberapa kali membaca pendapat yang mengatakan bahwa identitas kultural penting bagi orang untuk memahami siapa dirinya, asal-usulnya, dan apa tujuan hidupnya. Terus terang, saya meragukan hal tersebut, terlebih dewasa ini, ketika dunia semakin tak berbatas (mengulang apa yang sudah saya tulis di atas). Saya tidak menyangkal bahwa saya selalu mengasosiasikan diri saya dengan atribut-atribut yang senantiasa mengikuti saya: suku saya, agama saya, marga saya, sekolah saya, tempat saya dibesarkan, dan -- sesuai dengan tuntutan pekerjaan -- negara saya. Tapi saya tidak merasa bahwa atribut-atribut tersebut menjadikan saya seorang manusia yang lebih baik, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap bumi ini. Yang bisa dikecualikan barangkali adalah agama, dengan catatan bahwa implementasi perintah Tuhan sebagaimana diyakini dalam agama saya itu -- yang menekankan masalah kasih -- benar-benar saya laksanakan.
Ah, jangan-jangan saya semakin skeptis pada banyak hal. Dan tulisan ini semakin tidak fokus pada topiknya, hehehehe...
Posted by
caranita
at
Sunday, June 05, 2005
8
comments
I'm not posting something about the Deep Throat...
.... too many blogs already dedicate an entry on that.
Posted by
caranita
at
Wednesday, June 01, 2005
4
comments