A Kiss to Build A Dream On


Give me a kiss to build a dream on
And my imagination will thrive upon that kiss
Sweetheart, I ask no more than this:
A kiss to build a dream on

Give me a kiss before you leave me,
And my imagination will feed my hungry heart
Leave me one thing before we part
A kiss to build a dream on

When I'm alone with my fancies, I'll be with you
Weaving romances, making believe they're true

Give me your lips for just a moment
And my imagination will make that moment live
Give me what you alone can give
A kiss to build a dream on

Sekolah Minggu

Surya bersinar, udara segar, terima kasih
Di tepi pantai ombak berderai, terima kasih
T'rima kasih seribu (oh, t'rima kasih seribu)
Pada Tuhan Allahku (oh, pada Tuhan Allahku)
Aku bahagia kar'na dicinta, terima kasih

Petikan di atas adalah syair sebuah lagu yang saya pelajari di Sekolah Minggu, salah satu kesukaan saya sehingga masih bisa saya ingat sampai sekarang. Kadang-kadang dalam kebaktian rutin di kantor kami menyanyikannya, dan hal itu membawa kenangan yang manis buat saya.

Seperti banyak anak yang dibesarkan secara Kristen, orang tua saya memasukkan saya dan adik saya ke Sekolah Minggu. Karena pada dasarnya pemalu dan waktu masih kecil cenderung lebih suka menyendiri, mula-mula saya sebal sekali harus mengikuti kegiatan yang mengharuskan saya untuk berkumpul dengan sekian banyak wajah yang belum saya kenal. Untunglah beberapa anak tetangga yang menjadi teman bermain saya juga masuk Sekolah Minggu yang sama. Terus terang saya tidak ingat persis bagaimana Sekolah Minggu saya yang pertama di Jakarta itu, tapi saya bisa membayangkan bahwa tempat itu kemudian menjadi sangat menyenangkan buat saya, dengan guru Sekolah Minggu yang mengajarkan berbagai lagu baru dan menceritakan kisah-kisah dari Alkitab dengan gambar-gambar menarik.

Setelah saya bisa membaca, ibu saya membelikan sejumlah komik cerita Alkitab berseri, dan kitab Perjanjian Baru yang telah ditulis ulang dalam bahasa sehari-hari dan dihiasi ilustrasi sederhana berupa garis-garis sosok orang ala "The Saint" (aduh, saya lupa namanya, tapi kalau tidak salah "Kabar Baik untuk Masa Kini"). Yang terakhir itu menjadi bacaan saya sehari-hari, sampai kumal dan lembaran-lembarannya terlepas, serta sampulnya entah di mana.

Setelah itu, walaupun saya masih menikmati waktu-waktu ber-Sekolah Minggu dan Pondok Gembira (kebaktian khusus anak-anak tiap hari Kamis), saya mulai tidak nyaman dengan acara pembacaan kisah-kisah Alkitab. Soalnya sederhana: persepsi guru terhadap satu kisah tidak sama dengan persepsi saya.

Pindah ke Manado, saya mendapati bahwa di sana kita memanggil guru Sekolah Minggu dengan sebutan Melayu: "Encik" untuk guru wanita dan "Engku" untuk yang pria. Saya masih ingat nama salah satu Encik, Encik Elsye, yang kemudian menikah dengan salah satu Engku. Salah satu ciri khas tinggal di Manado saat itu adalah -- apalagi kalau tinggal di kompleks perumahan -- perayaan ulang tahun yang dipimpin oleh guru Sekolah Minggu. Kalau dilihat sepintas, terlebih oleh yang belum pernah mengalami, perayaan ultah seperti itu pasti membosankan. Ultah kok diisi kebaktian. Tapi waktu itu rasanya wajar-wajar saja, dan cukup menyenangkan. Walaupun tidak ikut menyanyi dan berdoa bersama, tapi teman-teman yang berbeda agama tampaknya ikut menikmati cara demikian, dan orang tua mereka tidak ada yang protes. (Sebaliknya, kami juga beramai-ramai merayakan Lebaran. Toleransi agama seperti inilah yang akan selalu saya rindukan dari Manado.)

Meskipun secara jujur para guru Sekolah Minggu saya dulu tidak berarti cukup dalam untuk saya, tapi saya selalu mengenang mereka dengan rasa hormat. Tidak gampang memberikan pengajaran agama secara benar dan menarik kepada anak-anak. Lebih sulit lagi untuk selalu menjadi contoh yang baik kepada mereka. Sering orang tua berharap terlalu besar kepada para guru Sekolah Minggu, karena mengabaikan tugas mereka mereka sendiri untuk memberikan pendidikan rohani kepada anak-anak mereka. Padahal, guru Sekolah Minggu juga manusia yang memiliki persoalan pribadi masing-masing, dan tanggung jawab utama menumbuhkan iman pada anak-anak kan terletak pada orang tua. Para guru Sekolah Minggu ini juga harus mengeluarkan dana sendiri untuk membeli berbagai buku-buku pengajaran agama untuk anak-anak, membuat alat-alat peraga, kadang membagikan permen atau kue kecil, padahal mereka tidak diupah oleh gereja (guru Sekolah Minggu adalah pekerjaan sukarela).

Saat saya menyaksikan paduan suara anak-anak di gereja, dibimbing oleh guru Sekolah Minggu mereka, selalu terbersit kekaguman saya. Banyak di antara mereka usianya jauh lebih muda dari saya, tapi mereka sudah melakukan hal yang jauh lebih berat.

Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah." (Matius 18:16)

Diberkatilah para guru Sekolah Minggu.

Things Couples Do When The Honeymoon is Thirty Years Over

To name a few:

1. Get as many braingames as possible to prevent or at least to minimize kepikunan.
2. This may enhance competitiveness, but add the excitement.
3. When things get harsher, and each party starts to cheat, the one who is going to lose will turn on the TV.
4. The other party will join.
5. Minutes later, both will fall asleep (exhausted from the hard battle they were just engaged in), yet somehow still keep the remote control. TV is still on, and their daughter is candidly taking their picture as a sort of revenge for not having the access to the remote control. (The Grey's Anatomy is playing on another channel!)
6. After an hour or so, one will be awaken and wake his/her partner up, and both will go to the bedroom terhuyung-huyung.

Sorry, no steamy scene here.

Lessons from the American Idol

I notice and I do share the feeling of a great number of people who were shocked that gifted singers got voted out of the American Idol. Nadia, Anwar, and Constantine being the latest prey of the principle of majority rules. The fact that the rude-forever-talent-questioned Scott Savol and sweet-yet-deadly-boring-in-need-of-voice-enhancer Anthony Ferodov still made it to the next step is so disheartening. I guess this pretty much gives us the impression that in order to win the hearts of American people -- at least in this fourth season -- you've got to possess this qualification:

1. Have a killing appearence, better combined with a good voice. Applicable for female only. Anyway, I've always loved Carrie Underwood and I personally think she'd get the crown this time. And I am a bit certain it's only a matter of time before Vonzell bits her goodbye to her millions of fans.

2. The "I-hate-Simon" factor. Thanks to William Hung, it is now considered cool to be the one "Idol" dissed by Simon. Nobody ever wants to be humiliated in public, thus more votes would be given to the those being put down by the sharp tongued Englishman and daring to hit back. It's sort of a public revenge to Simon, and at the same time it's about giving opportunities to those who love to sing but know that they lack many things, voice in particular. Kicking out talented singers subsequently constitutes as masturbation.

But after the war against blunt-speaking judges is over and reality takes back, the "eliminated" ones would return to spotlight. After all, it is the music industry that dictates public taste, not the other way around.

Ah, that maternal glow...

Being a woman did not stop me from checking out Asia Carrera's site once I discovered that she develops and maintains the site herself -- despite her busy schedule -- and that she is actually a Mensa member. (No, I don't believe she gained her membership by, well, entertaining the directors.) While I didn't find the site's appearence quite fancy, it is still amusing to read Asia's daily scoop, always written in a witty way. So I pay occasional visits to it.

Asia just gave birth to a baby girl, whom she and hubby Don Lemmon named Catalina. Like most new mothers in the world, she is so proud with her baby, and can't stop writing about her, and taking pictures of her. And like other blogging mothers, she created a website for her.

Anyway, seeing below photograph of Asia showing off Catalina, I think Asia looks way beautiful than ever. She definitely radiates that maternal glow. And Catalina is cute!

A Smile that Launches a Thousand Heartbeats

It was two days ago. Amid the Friday night commuters who were crowding the wagons, he was there with his two friends, a couple. The minute he came into my sight, I was taken. It took a full effort not to stare at him the entire 20 minute-ride home.

One of his friends joked. And he smiled.

Oh my God.

Whenever I see your smiling face, I have to smile myself
Because I love you, oh yes, I do

It was not love, of course. Yet, when he smiled, I couldn't help smiling too. Got to move my head towards other direction so others wouldn't notice. Somehow I felt like he caught me. (Or perhaps I hoped that he did). Whatever it is, the room suddenly lit up.

It's not like everyday that you have an exciting experience of encountering God's creature with a beautiful face framed by copper-brown hair and a smile that launches a thousand heartbeats.

Programmer Tunanetra

Seorang teman saya mengirimkan email, yang rupanya berasal dari halaman situs ini. Isinya demikian:

Punya banyak teman memang mengasikkan dan merupakan berkah tersendiri.
Punya teman politisi, itu biasa...
Punya teman pedagang, itu juga biasa...
Punya teman dokter, itu juga biasa...
Punya teman pejabat, itu juga biasa
Punya teman tukang ojek, itu juga biasa...
Punya teman konglomerat, itu juga biasa...
Punya teman orang IT, itu sangat biasa lagi karena memang profesi dan bidang yang se-hari2 saya geluti adalah IT.

Nah kalau punya teman orang IT, programer yang tunanetra? Itu baru ruarrrrbiasa...
Terus terang, pengalaman baru bagiku, berkenalan dan akhirnya bisa berteman dengan teman baruku ini. Dari namanya tidak ada yang aneh, Rama, nama orang Indonesia kebanyakan. Lengkapnya, Eko Ramaditya Adikara.

Perkenalan ini terjadi pada saat launching website tunanetra pertama di Indonesia, www.mitranetra.or.id yang diselenggaran oleh Depkominfo bekerjasama dengan Yayasan Mitra Netra, Hari Kamis, 31 Maret 2005 di Gedung LIN, Jl. Merdeka Jakarta.

Awalnya, pembukaan yang dilakukan oleh Menteri Kominfo, Bp Sofyan Djalil terasa biasa2 saja dan membosankan. Berangkat pagi2 dari kantor Pacific Link (www.pacific.net.id, yang terletak di kawasan kuningan) tidak begitu bersemangat. Maklumlah, dari undangan yang dikirimkan, tidak ada yang istimewa dari acara ini. Apalagi judul acara dan agenda acara terasa biasa2 saja. Seremonial peluncuran website seperti ini sudah hilang gregetnya bagi saya dan juga teman2 di kantor. Ditambah lagi asumsi2 kami yang sempat negative thinking... Ah... paling2 proyek2an pemerintah... ah paling2 website pemerintah yg isinya meng-eksploitir kegiatan orang2 (maaf) cacat... proyek fiktif apalagi ini? (hehehe... maaaf... bagian yang ini mohon di sensor...)

Yang akhirnya (sedikit) membuat saya bersemangat untuk hadir adalah diantara pembicara dalam seminar (yang juga merupakan bagian dalam acara tsb) adalah Onno. W Purbo dan Roy Suryo.

Setelah seluruh sambutan, tibalah saatnya untuk demo yang dilakukan oleh Rama... yang sebelumnya saya duduk dibagian tengah kemudian pindah kebagian paling depan, berdiri, ingin menyaksikan demo tersebut dari jarak yang dekat.

Penasaran dan kagum, pikiran itulah yang memenuhi otak saya. Allahu akbar... ckckckckkkk... hebat... seorang tunanetra bisa melakukan semua hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kami. Ternyata... website tsb adalah hasil karya mereka, orang2 IT yang tunanetra.

Terharu, trenyuh, kagum, salut dan masih banyak lagi perasaan dan pikiran yang ada pada saya pada saat itu.

Setelah demo berlangsung, kebetulan Rama duduk persis disebelah saya. Itulah awalnya kami berkenalan. Salah seorang temannya yang juga dikenalkan adalah Suratin. Suratin pernah mengirimkan email ke Pak Onno yang juga membuat Pak Onno terkejut dan heran atas pengakuan Suratin bahwa dirinya adalah tunanetra. Email ini sempat di tampilkan pada saat sesi presentasi.

Banyak hal yang kami bicarakan. Rama atau aurora (demikian nicknamenya di i-net) adalah tunanetra sejak dari lahir. Seorang yang mandiri, potensial, rajin menulis dan lain-lain yang bisa anda baca sendiri di website pribadinya di http://www.ramaditya.com/. Rama juga biasa chating menggunakan Yahoo Mesenger, selain menggunakan email. Atau jika ingin berkenalan lebih jauh, anda bisa juga mengubunginya via HP selain mengunjungi websitenya.

Demikian cerita singkat mengenai perkenalan kami yang akhirnya saya tulis dalam blog ini. Sampai hari inipun, setelah 1 minggu perkenalan dan beberapa kali melakukan kontak (hp, email dan chating), kesan yang mendalam tsb masih tetap melekat kuat di otak saya.

Pesan dan hikmah yang bisa diambil dari cerita ini adalah kemauan dan kerja keras akan membuat hal yang menurut orang kebanyakan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Masing2 orang memiliki kekurangannya sendiri2 disamping kelebihan yang harus bisa ditonjolkan. Kekurangan menjadi tidak berarti ketika keunggulan seseorang bisa ditampilkan dengan se-baik2nya.

Dan satu hal penting yang harus disampaikan dan disosialisasikan dalam hal launching dan seminar website tunanetra tsb adalah mengenai "Web Accessibility". Sebagai pemerhati dunia IT, programer, developer, ataupun pengguna internet di Indonesia, ada baiknya kita ikut mensosialisikan web yang dimana kita berkontribusi didalamanya, agar ditambahkan kode khusus sehingga web tsb dapat di akses oleh teman2, saudara2, rekan2, keluarga ataupun kerabat kita yang tunanetra. Untuk lebih jelas mengenai referensi bagaimana membuat "Web Accessibility". bisa anad baca di http://www.w3.org/WAI/, www.microsoft.com/enable, www.microsoft.com/enable/training/default.aspx, www.cew.wisc.edu/accessibility/tutorials/default.htm,
www.wright.edu/web/access/, www.nomensa.com/resources/ articles/web-accessibility.html. Sedangkan perangkat lunak, screen reeader yang paling populer digunakan (paling tidak untuk mencoba apakah website tsb sudah layak untuk ditampilkan) adalah Jaws. Atau bahkan di i-net banyak terdapat tool2 untuk melkuan pengecekan terhadap web yg sudah mendukung Web Accessibility. Untuk yang versi Indonesia mungkin ada yang pernah buat? Atau ada yang tahu URLnya, mohon diinformasikan dan disosialisaikan ke teman IT. Bagi yang berminat untuk membuat dokumentasi, tutorial ataupun tulisan dalam bahasa Indonesia sangat diharapkan, mungkin kita bisa bekerjasama? :)

Mereka (teman2 tunanetra) tidak butuh dikasihani, tidak butuh pertolongan kita. yang mereka butuhkan adalah pengakuan kita akan eksistensi mereka. Hal ini juga terungkap dan menjadi pertanyaan yang dilontarkan oleh Bp. Encep Kastroni (Ketua KAPCI) dan Ismail yang menanyakan kepada pembicara seminar. Paling tidak, bentuk kepedulian kita adalah mau memikirkan bagaimana mereka bisa mndapatkan informasi dari i-net, bagaimana mereka bisa mendapatkan info dari web. Salah satunya Mensosialisasikan Web Accessibility.

Terima kasih buat Rama dan teman2, secara tidak langsung anda dan teman2 memberikan motivasi lain bagi kami yang bukan tunanetra agar lebih terpacu dan dapat berkarya, terutama yang berguna buat orang lain. Karya terbaik apapun menjadi tidak berarti ketika karya itu tidak gunanya bagi orang lain.

Terimakasih buat Depkominfo dan Yayasan Mitra Netra yang telah mau peduli dengan mereka dan berkenan mengundang kami, Pacific Internet Indonesia. Dan saya mohon maaf karena sebelumnya sempat berprasangka kurang baik (padahal kl gak terus terang gini juga mereka kan gak tahu ya? Biar fair ajalah apa yang ada di isi hati... :) ).
Dan juga terimakasih dengan Mas Roy atas bincang2nya walaupun cuma sebentar, yang sedikit-banyak juga memberikan inspirasi bagi saya kalau suatu saat bisa jadi pembicara seperti mas Roy. Dan juga pak Onno yang selama acara terlihat sekali sibuk dengan digicamnya, foto sana, foto sini.... (kamera baru ya pak? Saya sempat difoto juga gak pak? hehehehehe...:) )

Semoga Allah swt selalu melindungi dan memberikan rahmatnya bagi Rama, Suratin, teman2nya dan juga kita semua... amiiiinnn...

Maju terus Telematika (ICT) di Indonesia... Semoga...

Jakarta, 6 April 2005

@dH1

Saya selalu senang melihat orang yang punya keinginan untuk maju. Bravo, Rama!

PS:
Maaf buat Mas Adi Rachdian yang blognya saya sontek habis-habisan, tanpa permisi pula. Tadinya akan saya edit, tapi rasanya seperti vandalisme; bagaimanapun ini kan tulisan Mas Adi.